Ruang Tokoh

Pelajar dan Tantangan Masa Depan

SABBA.ID | #Opini – Melihat kembali fenomena ledakan penduduk usia produktif di Indonesia, kiranya akan tetap menarik untuk dibahas dan ditelaah lebih jauh dalam perkembanganya dari waktu ke waktu.

Apa yang sudah mereka lakukan dan apa kaitanya dengan sumbangsih terhadap pembangunan bangsa sampai saat ini. mereka (kaum muda/milenial), telah hadir sebagai lokomotif generasi baru yang menjadi tumpuan mimpi dan harapan dari berbagai kalangan, yang mempercayakan tatanan masa depan kepada mereka sebagai agen pembaharuan.

Jika kita menengok bagaimana arus generasi milenial ini muncul di abad 21, tentu saja kita akan memasuki gerbang historiografi yang mencatat generasi milenial sebagai bonus yang didapat satu kali dalam sejarah perjalanan suatu bangsa.

Mereka yang tercatat sebagai penduduk usia produktif (kaum milenial), harus kembali memahami dirinya sebagai pelaksana masa kini dan masa depan, dalam kaitanya dengan menghadapi dan memecahkan berbagai problematika kehidupan.

Tak jarang, ada sekian banyak istilah yang melukiskan betapa kaum muda mendapat tempat yang sangat signifikan dalam berbagai ranah kehidupan, dan dianggap sebagai tolak ukur pembaharuan, serta pewaris peradaban. Singkatnya, orang – orang muda adalah manifestasi yang dapat menentukan mata rantai masa depan.

Dalam opini kali ini, penulis ingin mencoba merefleksikan kembali semangat yang harus tetap terjaga dalam kondisi dan situasi apapun, terkhusus bagi kita yang mempercayakan arah masa depan bangsa kepada orang – orang muda.

Bicara soal pemuda memang tak da habisnya, kiranya sudah sangat banyak tulisan – tulisan yang membicarakan hal demikian. Sungguhpun penulis ingin membicarakn hal yang sama, maka dengan segala keterbatasan dan pengetahuan yang penulis ketahui, arah kepenulisan ini akan mencoba membangun dalam focus tulisan yang lebih spesifik dan terarah.

Satu tema yang cukup menarik mungkin adalah soal kaum Muda Terpelajar sebagai generasi emas, yang harus tereksplorasi dengan segala prestasi dan semangatnya membangun masa depan negeri.

Karena itu, penulis tak bosan untuk kembali mengulas tema ini dari berbagai pendekatan dan sudut pandang. Sebab, ada sekian banyak pewacanaan dan berbagai teori yang mengexspresikan realitas generasi, dalam hubunganya dengan norma, nilai, dan instrumen yang menyangkut sendi – sendi kehidupan.

Pelajar di Era Revolusi Industri 4.0

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era Revolusi industri 4.0 membuat terobosan yang luar biasa untuk sebagian orang. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi mengakibatkan sebagian orang menangkap kesempatan dan mampu memanfaatkan dengan baik.

Untuk sebagian orang yang mampu mengimbangi dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi mampu melahirkan suatu gagasa yang baru. Gagasan ini muncul untuk menjawab pemenuhan kebutuhan manusia dalam berbagai bidang, tidak terkecuali di kalangan pelajar yang sedang menempuh jenjang pendidikan.

Pendidikan merupakan penopang utama di Era 4.0. Pendidikan juga harus mengalami perubahan kearah yang lebih baik untuk mengimbangi ilmu pengetahuan dan teknologi. Perbaikan mutu dan peningkatan kualitas tenaga pendidik (guru), harus mampu mempersiapkan para pelajar di era Revolusi Industri dan tidak menggeser peran guru sebagaimana mestinya dengan hadirnya Google Asistence.

Eksistensi pelajar yang sedang menata masa depan melalui tempaan pendidikan di sekolah dan diinstitusi pendidikan lainya, merupakan elemen esensial dalam peranananya membangun kualitas sumber daya manusia.

Cadangan SDM yang dipersiapakan dengan model pendidikan modern dan dikolaboarsi dengan sentuhan pendidikan karakter (akhlakul karimah dan spiritualitas), kiranya akan dapat menghadapi tantangan zaman di era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti sekarang ini.

Karena itu tak heran apabila Al- Ghazali sejak ribuan tahun lalu memberikan sebuah deskripsi betapa pendidikan yang menyentuh aspek Akhlak akan dapat memberikan kedalaman makna dan nilai – nilai luhur dalam kehidupan sehari – hari. Tentu saja, era reovoluasi Industri 4.0 yang ditandai sebagai era baru umat manusia merupakan era yang tak dapat dihindari dalam bayang – bayang kehidupan.

Semuanya dianggap serba ada dan dapat diakses oleh manusia untuk mempermuda berbagai kebutuhan. Namun, apakah kita mengalami kemudahan dalam mencapai kebahagiaan diera 4.0 ini?, karena itu mari sejenak kita kembali pada analisis pendidikan karakter (akhlak) dalam perspektif Islam.

Makna dibalik Pendidikan Karakter (Akhlak)
Menurut Imam Al-Ghazali, akhlak bukan sekedar perbuatan, bukan pula sekedar kemampuan berbuat, juga bukan pengetahuan. Akan tetapi, akhlak adalah upaya menggabungkan dirinya dengan situasi jiwa yang siap memunculkan perbuatan – perbuatan, dan situasi itu harus melekeat sedemikan rupa sehingga perbuatan yang muncul darinya tidak bersifat sesaat melainkan menjadi kebiasan dalam kehidupan sehari – hari.

Hanya saja dewasa ini banyak sekali tantangan yang dapat mengakibatkan kerusakan akhlak pada generasi umat Islam, terutama sekali dikalangan orang – orang muda.

Untuk itu umat Islam seharusnya memahami secara benar dan menerapkan hakekat dari pendidikan akhlak sesuai dengan prinsip – prinsi pendidikan karakter dalam perspektif Islam.
Dewasa ini, sedang hangat diperbincangkan mengenai model pendidikan karakter sebagai basis dari pendidikan itu sendiri.

Akan tetapi dalam praktiknya, banyak yang menerapkan pendidikan karakter yang dipromosikan oleh Thomas Lickona maupun Lawrence Kohlberg. Padahal, bila dilihat ulang konsep tersebut berbanding terbalik dengan prinsip dan konsep pendidikan dalam Islam (akhlak), hanya mengarah kepada dimensi sosial yang tidak memberikan sentuhan pada dimensi religiusitas.

Sehingga memberikan implikasi buruk pada output yang dihasilkan dari peserta didik, mula – mula mengarah kepada baiknya akhlak, tapi yang timbul malah sebaliknya, kehilangan ahklak. Hal tersebut dapat dilihat pada fakta yang terjadi, yaitu banyak pergaulan bebas antar remaja, perkelahian, pemakaian narkoba dan lain sebagainya yang kerap menghiasi media informasi.

Mempertinggi nilai – nilai akhlak hingga mencapai titik atau derajat akhlakul karimah menjadi tujuan utama dalam pendidikan. Tujuan ini sama dan sebangun dengan tujuan yang akan dicapai oleh misi kerasulan, yaitu membimbing manusia agar berakhak mulia.

Prinsip belajar yang ditanamkan menurut Al-Ghazali dalam menguasai ilmu pengetahuan adalah memperkokoh agama dengan tafaqquh fiddin, hal tersebut merupakan jalan untuk menghantarkan kepada Allah Swt.

Demikian proses Al-Ghazali dalam membentuk Aklak anak,yaitu memfokuskan pada upaya mendekatkan diri kepada ALLAH SWT dalam tujuan ilmu pengetahuan, hal tersebut dilakukan atas dasar Iman kepada Allah kemudian akhlak mulia terbangun, tidaklah tercipta akhlak mulia tanpa pondasi tersebut.

Disini tampak jelas perbedaan prinsip antara pandagan filsof barat pada umumnya dengan pandangan Imam Al- Ghazali dalam melihat hakekat manusia. Filsof barat melihat manusia sebagai mahluk antroposentris, sedangkan Al- Ghazali melihat manusia sebagai mahkluk yang bersifat teosentris.

sehingga tujuan dari pendidikan tersebut hanya mencerdaskan fikiran saja, melainkan juga berusaha bagaimana membimbing, mengarahkan, meningkatkan dan mensucikan hati untuk mendekatkan diri kepada ALLAH SWT.

Ikhtiar Menghadapi Perubahan Zaman
Setiap zaman ada tokohnya dan setiap tokoh ada zamanya. Penggalan kalimat ini mungkin sering kita dengar dalam berbagai diskursus general di berbagai organisasi, komunitas, institusi pendidkan, dan lain sebagainya.

Kalimat tersebut mengistilahkan bahwa perkembangan zaman yang kian pesat sangat mungkin dipengaruhi oleh kemampuan akal budi manusia dalam mempolarisasi sesuatu dan menjadi sebuah temuan baru.

Jika kita amatai lebih jauh, factor – factor lain yang berperan membentuk citra kemajuan suatu zaman juga dipengaruhi oleh misi besar manusia dalam melepasakan dirinya dari cengkraman regresifitas.

Sehingga dengan kata lain, orang – orang yang berjasa menciptakan terobosan maha karya ilmu pengetahuan dan teknologi adalah mereka yang telah mempertemukan kita dalam dunia baru yang serba praktis, dan dianggap mampu mempermudah segala hajat hidup orang banyak.
Jika dikaitkan dengan kemunculan generasi milenial terkhusus para pelajar saat ini, apakah mungkin kita akan membuat premis terbalik bahwa mereka (para pelajar), adalah produk dari rencana dan misi besar itu?, serta bagaimana mereka harus bersikap kepada kenyataan zaman yang semakin cepat berubah dari waktu ke waktu?.

Sebuah pengantar deskriptif secara umum barangkali sudah penulis uraikan diatas, namun akan lebih terasa berarti apabila penulis ingin sedikit membuat semacam plot twist diakhir tulisan ini.

Disadari atau tidak, bagi generasi milenial saat ini adalah waktu yang tepat untuk berada dalam arena pertarungan intelektual dan kemampuan yang sesungguhnya. Bagaiamanapun, kita sudah berada pada fase kompetisi antara harapan dan kenyataan, antara ego dan mimpi, antara kualitas dengan adaptasi kebiasan baru. Jika demikian, maka bagi generasi milenial barangkali harus bersedia menjadi bagian dari elemen penting di era 4.0 ini.

Sikap yang dibarengi dengan kemampuan beradabtasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah hal yang paling utama untuk dipersiapkan. Ilmu pengetahuan dan teknologi mesti difahami sebagai tantangan dalam konteks pembelajaran dan pendalaman ilmu itu sendiri.

Jika kita menghindar dan menolak arus globalisasi seperti yang terjadi saat ini, maka akankah kita tetap mampu dan berdikari dalam segala hal?, paling tidak sebagai manusia yang hidup diera modern seperti saat ini, kita harus tetap belajar, berjuang, serta bertaqwa, untuk mendalami perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan tetap memperhatikan etika dan moral belajar (pendidikan) yang sesuai dengan prinsip – prinsip pendidikan dalam Islam.

Dengan tidak melepas moral agama dalam menghadapi tantangan zaman, kiranya kita akan tetap menjadi bagian dari orang – orang yang tetap eksis dalam pergulatanya menghadapi berbagai perubahan era, dari waktu ke waktu.

Bagi generasi muda dan terutama sekali para pelajar saat ini, kita akan menemukan kualitas diri dan capaian prestasi sesuai dengan kebiasaan apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari – hari. Kebiasaan kita sangat mungkin menghasilkan output yang selaras dengan perbuatan, sikap, prilaku, cara belajar dan berkembang, bagi setiap individu.

Tak heran apabila Jean Paul Sarte mengatakan bahwa untuk membentuk sebuah esensi (nilai), harus didahului dengan eksistensi (kebiasaan) yang kita lakukan sehari – hari. Singkatnya, eksistensi mendahului esensi. Karena itu, pesan untuk para pelajar dan generasi milenial saat ini adalah hal yang paling baik didunia adalah; hal baik yang dilakukan secara terus menerus dan berulang -ulang.

Akhir kata, penulis sangat mengapresiasi kepada para pelajar dan generasi milenial yang tetap utuh menjalankan kewajibanya menuntut ilmu pengetahuan, dan kemudian berusaha keras mengimplementasikanya dalam kehidupan sehari – hari.

Tulisan ini didedikasikan untuk Harlah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), ditahun 2021 ini. Semoga menuai manfaat dari setiap analisa dan deskpripsi yang penulis uraikan. Maju terus pelajar Indonesia, dengan belajar kita berpedoman, berjuang, serta bertaqwa.

Tulisan ini didedikasikan untuk Harlah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), ditahun 2021 ini. Semoga menuai manfaat dari setiap analisa dan deskpripsi yang penulis uraikan. Maju terus pelajar Indonesia, dengan belajar kita berpedoman, berjuang, serta bertaqwa.

Dengan berpedoman kita belajar berjuang bertaqwa

Oleh Akbarudin, S.Sy.,M.E

Show More

Redaksi

Teruntuk pembaca setia Sabba “Semua harus ditulis, apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna” (Pramoedya Ananta Toer)

Komentari Berita

Related Articles

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!