LebakRuang TokohTerkini

Sikap Politik Orang Baduy: Ilu Kanu Menang

Sikap politik orang Baduy dalam menerima hasil Pemilu. Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung.

Ada banyak ragam bentuk pemerintahan yang diterapkan di berbagai negara di dunia. Diantaranya monarki, aristokrasi, oligarki, dan demokrasi. Indonesia menerapkan bentuk demokrasi sebagai model pemerintahan.

Dalam demokrasi, kedaulatan berada di tangan rakyat. Setiap orang memiliki hak yang sama untuk menentukan, mengarahkan, dan mengendalikan pemerintahan. Rakyat menjadi penentu arah negara.

Bentuk pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat ini, diartikulasikan dalam Pemilihan Umum atau Pemilu. Pemilu menjadi media bagi rakyat untuk mendelegasikan suara, aspirasi, dan kehendaknya.

Setiap orang yang telah memenuhi syarat, memiliki satu suara. Entah dia seorang rakyat jelata, jawara, ulama, cendekia, dan lain sebagainya, semua punya hak yang sama; satu orang satu suara.

Siapa yang mendapat dukungan atau meraih suara paling banyak, maka dia yang ditahbiskan sebagai pemimpin dan atau wakil rakyat. Lalu, dialah yang menjalankan roda pemerintahan sebagai mandataris rakyat.

Karena dalam demokrasi satu orang satu suara, dan karena yang paling banyak mendapat suara adalah yang jadi pemimpin, salah satu resikonya adalah tidak setiap yang terpilih adalah yang terbaik.

Terbaik dimaksud adalah sosok calon pemimpin atau wakil rakyat yang memiliki kompetensi dan integritas. Tetapi lain halnya bila tafsir terbaik itu adalah dibuktikan dengan banyaknya jumlah dukungan.

Untuk meraih dukungan dari rakyat pemilik suara, para calon pemimpin dan wakil rakyat itu diberikan kesempatan untuk menyampaikan programnya. Media ini dikenal dengan istilah kampanye.

Dalam kampanye, calon pemimpin dan wakil rakyat mengenalkan dirinya kepada rakyat, berikut janji-janji yang akan dia penuhi dan tunaikan ketika terpilih nanti. Dilakukan dengan cara orasi juga blusukan.

Kampanye merupakan tahapan paling rawan dari seluruh tahapan pemilihan. Kadang diwarnai gesekan dan pengerahan masa. Isi kampanye bukan hanya kelebihan dan keunggulan diri. Kadang juga disertai serangan.

Ajang kampanye, bukan hanya digunakan untuk menyampaikan program, tetapi juga menyerang lawan. Fitnah, hoax, ujaran kebencian, intimidasi, hingga politisasi kitab suci, adalah wujud menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan.

Karena ulah model kampanye seperti itu, maka ketika hasil penghitungan suara sudah diketahui, dan pemenang sudah diumumkan, tak jarang menuai gugatan dan penolakan. Alasan lazimnya, terjadi kecurangan dan pelanggaran.

Akibatnya, rangkaian pemilihan belum dianggap berakhir ketika pemenang sudah diumumkan. Pihak yang merasa tidak puas melakukan gugatan ke mahkamah tempat mencari keadilan.

Putusan mahkamah beragam. Kadang menolak gugatan. Namun tak sedikit mengabulkan tuntutan. Akibatnya, ada pemilihan yang dilakukan ulang. Kalau sudah begini, pekerjaan lagi.

Sengketa hasil di mahkamah kadang diwarnai riak. Pemenang dan para pendukung pastinya menolak. Pihak yang kalah dan para simpatisan berontak. Perseteruan dan polemik dua kubu berbeda ini berujung konflik.

Konflik semakin meruncing, bukan hanya di meja pengadilan, tetapi juga di lapangan. Dua kubu berseteru. Bentrok fisik terjadi, saling serang, baku-hantam, saling lumpuhkan, bumi hanguskan.

Mestinya, kedua belah pihak tidak perlu begitu, bila sejak awal disadari, bahwa dalam model demokrasi, akan ada yang menang, juga yang kalah. Artinya, sudah harus siap, bukan hanya menjadi pemenang, tetapi juga yang kalah.

Seperti halnya prinsip yang diterapkan oleh masyarakat Baduy di Banten. Dalam sikap politiknya, orang Baduy memakai prinsip yang dikenal dengan istilah “Lunang”. Akronim dari “ilu ka nu meunang”.

“Ilu ka nu meunang” itu artinya ikut pada yang menang. Maksudnya, orang Baduy akan menerima atas hasil pemungutan dan penghitungan suara, siapapun yang terpilih dan menjadi pemenang.

Pada perhelatan demokrasi, orang Baduy juga ikut memilih. Tapi mereka tidak membolehkan kampanye. Alasan mereka, kampanye bisa memantik permusuhan dan perpecahan warga; kondisi yang tidak diharapkan oleh mereka.

Ketika hari H pemungutan suara, mereka datang ke Tempat Pemungutan Suara atau TPS. Saat hasil diumumkan, mereka lapang dada, legowo menerimanya. Walau bukan pilihan mereka yang jadi pemenang, tetapi mereka akan konsisten menerima hasil.

Ilu ka nu meunang, atau ikut pada yang menang, merupakan sikap politik orang Baduy yang sedari awal menyadari bahwa model demokrasi konsekuensi logisnya adalah akan ada pemenang dan yang kalah. Maka atas keduanya harus siap menerima dengan lapang dada.

Prinsip sederhana dari masyarakat sederhana ini, sebaiknya diadopsi oleh para peserta pemilihan. Daripada tidak terima akibat kalah lalu mencari-cari salah kemudian menggugat sembari menuduh terjadi kecurangan dan pelanggaran, lebih baik belajar pada masyarakat Baduy.

Lunang, ilu ka nu meunang. Ikut pada yang menang. Prinsip orang Baduy yang mengajarkan pada kita, bahwa dalam demokrasi, bukan hanya siap untuk menang, tetapi siap juga untuk menerima kekalahan dengan lapang dada.

“Lojor ulah dipotong, pondok ulah disambung”
Penulis : Ocit Abdurrosyid Siddiq
Anggota Bawaslu Provinsi Banten


Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!