KomunitasNasionalOlahragaTerkini

UKM FORMASI UIN Banten: Tidak Ada Sepakbola Seharga Nyawa Manusia

Serang – FORMASI (Federasi Olahraga Mahasiswa) berdiri pada 1 Oktober 1998, yang bertempatkan di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, serang-banten. Selaku Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang menjadi fasilitator dalam bidang keolahragaan untuk Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Maka kami turut berdukacita atas tragedi sepak bola indonesia yang terjadi di malang, Jawa Timur.

Tragedi kanjuruhan merenggut hingga 182 korban jiwa, Amnesty International menyoroti penggunaan gas air mata yang dilakukan oleh aparat keamanan.

Kericuhan pecah pasca pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, pada Sabtu, 1 Oktober 2022. Para korban yang tewas diduga karena mengalami sesak napas akibat gas air mata yang ditembakkan oleh aparat kepolisian.

Padahal, penggunaan gas air mata di stadion sepak bola melanggar regulasi Federation International de Football Association (FIFA). Aturan tersebut tertuang dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulation pada Pasal 19 Huruf B. Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa gas air mata dan senjata api dilarang keras dibawa masuk ke dalam stadion, apalagi digunakan untuk mengendalikan massa. Bukan hanya regulasi FIFA, penyalahgunaan gas air mata juga dilarang dalam Amnesty International.

Sebelumnya, panitia pelaksana (pan-pel) pertandingan dan Polres Malang sudah menyarankan agar pertandingan digelar pada sore hari dengan mempertimbangkan berbagai hasil.
Namun, PT Liga Indonesia Baru (LIB) tidak mengabulkannya dengan tetap meminta pertandingan digelar sesuai jadwal pada malam hari. Alhasil, pihak keamanan kerepotan mengendalikan massa yang melampiaskan kekecewaan atas kekalahan ini.

Tentu semua pihak wajib bertanggung jawab atas insiden hitam tersebut. Sorotan mengarah kepada PSSI selaku federasi, PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator kompetisi, panitia pelaksana (Pan-pel) pertandingan serta pihak kepolisian.

Kapasitas dan jumlah suporter dalam stadion saat laga berlangsung, turut menjadi perhatian.
Dalam laga bertajuk Derby jatim itu, panitia pelaksana (pan-pel) disebut mencetak tiket yang melampui kapasitas stadion Kanjuruhan, malang.

Sebelum laga berlangsung, pihak aparat kepolisian sudah mengusulkan agar tiket dicetak sesuai kapasitas. Akan tetapi, sebanyak 42 ribu tiket dicetak dari yang seharusnya 38 ribu tiket.
Tindakan represif yang dilakukan oleh aparat kepolisian kepada suporter Arema FC ada dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan aparat kepolisian dan pengendalian massa yang tidak sesuai prosedur, sehingga mengakibatkan ratusan korban jiwa.


…………………………….,
(tidak ada satu kemenanganpun yang sebanding dengan nyawa. Dengan lebih baik kehilangan 3 angka daripada kehilangan nyawa)

Maka atas kejadian tersebut kami dari Federasi Olahraga Mahasiswa

  1. Mengecam keras tindakan represipitas aparat kepolisian terhadap suporter
  2. Menyayangkan tindakan Suporter yang masuk ke dalam lapangan
  3. PSSI dan PT LIB segera perbaiki kualitas manajerial pertandingan.

“Al-aqlu Al-salim Fi Al-jismi Al-salim”

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!