NasionalTerkini

Cerita Fani Terjebak Puncak Arus Mudik, Tempuh 19 Jam dari Serang ke Klaten

Perjalanan mudik Lebaran 1447 H / 2026 ini menyisakan cerita miris bagi Fani Yulia Susyanti, warga Keragilan, Kabupaten Serang, Banten. Ia bersama anggota keluarganya harus menempuh perjalanan hingga 19 jam untuk bisa sampai ke kampung halaman di Klaten, Jawa Tengah.

Fani berangkat dari rumahnya pada Rabu (18/3) pukul 24.00 WIB. Namun, ia baru tiba di rumah sang nenek di Klaten pada Kamis (19/3) pukul 19.00 WIB.

“Perjalanan tahun ini paling parah. Biasanya nggak selama ini,” kata Fani, Jumat, (20/3/2026).

Ia mudik bersama lima orang anggota keluarga menggunakan minibus, termasuk adiknya yang masih berusia tiga tahun.

Kemacetan mulai dirasakan sejak memasuki wilayah Bekasi, tepatnya di akses Tol Jakarta–Cikampek (Japek). Kepadatan terus berlanjut hingga jalur utama menuju Jalan Layang MBZ.

Namun, karena kondisi MBZ terlihat padat merayap dan sempat diberlakukan buka-tutup akses, keluarga Fani memilih tetap berada di jalur bawah Tol Japek.

Advertisement Space

“Kita nggak lewat MBZ, soalnya kelihatan macet banget,” ujarnya.

Kondisi lalu lintas di Tol Jakarta–Cikampek hingga pertemuan arus menuju Karawang dan Cikampek menjadi titik krusial. Kendaraan hanya bisa bergerak perlahan akibat tingginya volume kendaraan pemudik.

Memasuki ruas Tol Cipali, kemacetan belum juga terurai. Kepadatan kembali terjadi, terutama di sekitar rest area yang dipenuhi kendaraan.

Antrean panjang kendaraan yang hendak masuk rest area bahkan meluber hingga ke badan jalan. Banyak kendaraan lain yang akhirnya berhenti di bahu jalan, memperparah kemacetan.

“Rest area penuh semua. Banyak mobil berhenti di pinggir jalan, jadi makin macet,” kata Fani.

Di tengah perjalanan panjang tersebut, kelelahan menjadi tantangan serius. Ayah Fani yang menjadi pengemudi utama sempat mengantuk akibat terlalu lama menyetir di tengah kondisi lalu lintas yang tidak bergerak.

“Ayah sempat ngantuk karena capek nyetir terus,” ungkapnya.

Kondisi darurat juga dirasakan para pemudik, termasuk rombongan Fani. Minimnya akses ke fasilitas umum membuat beberapa penumpang terpaksa buang air kecil di pinggir jalan.

Secara umum, kemacetan panjang terjadi di sejumlah titik, mulai dari Bekasi, ruas Tol Jakarta–Cikampek, akses menuju Jalan Layang MBZ, hingga sepanjang Tol Cipali. Waktu tempuh yang biasanya hanya beberapa jam, pada puncak arus mudik kali ini bisa membengkak hingga dua sampai tiga kali lipat.

Meski penuh kelelahan dan ketidaknyamanan, Fani dan keluarganya bersyukur akhirnya tiba dengan selamat di kampung halaman.

“Ini mudik paling capek dan paling lama. Biasanya dari Serang ke Klaten paling lama 10 jam. Tahun ini 19 jam,” tutupnya.

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!