CilegonKomunitasRuang Tokoh

HPN, Etika Pers, dan Cilegon sebagai Kiblat Sejarah Siber Indonesia

Oleh: Azharudin Salim Regar
Bidang Publikasi Media SMSI Kota Cilegon

Hari Pers Nasional (HPN) bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi bagi insan pers untuk kembali meneguhkan nilai-nilai dasar jurnalistik. Bicara tentang HPN berarti bicara tentang etika jurnalistik, tanggung jawab moral, serta kewajiban melakukan check and balance dalam setiap proses pemberitaan.

Dalam menyampaikan informasi kepada publik, wartawan tidak boleh abai terhadap prinsip keberimbangan. Baik berita yang bersifat fakta maupun yang masih berupa dugaan, tetap wajib melalui proses konfirmasi ulang. Tanpa itu, berita kehilangan nilai etik dan berpotensi menyesatkan opini publik.

Di sinilah perbedaan mendasar antara platform media massa dan media sosial. Media memiliki standar, kode etik, serta kewajiban menghadirkan narasumber yang aktual dan valid. Sementara media sosial sering kali berjalan tanpa verifikasi, tanpa tanggung jawab redaksional, dan rawan disinformasi. Pertanyaannya, apakah semua informasi yang viral bisa disebut valid?

Jawabannya jelas: tidak.
Sayangnya, prinsip menghadirkan narasumber yang kredibel dan berimbang ini kerap terlewati. Padahal, keabsahan informasi adalah roh dari kerja jurnalistik. Tanpa validitas, pers kehilangan kepercayaan publik.
Di era digital yang serba cepat, insan pers dan masyarakat dituntut semakin melek informasi.

Literasi digital menjadi kunci agar masyarakat tidak sekadar menjadi konsumen berita, tetapi juga mampu menyaring, memahami, dan membagikan informasi secara bertanggung jawab. Budaya share before check harus dihentikan, diganti dengan check before share.
Momentum ini semakin relevan bagi Kota Cilegon. Dalam waktu dekat, tepatnya 7 Februari 2026, Cilegon akan meresmikan Monumen Siber Indonesia.

Advertisement Space

Sebuah peristiwa bersejarah yang menegaskan posisi Cilegon sebagai bagian penting dalam perjalanan pers dan media siber nasional. Terlebih, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) lahir di Cilegon pada tahun 2017.

Peresmian monumen ini akan dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Ketua Umum SMSI Pusat Firdaus, jajaran kabinet, pengurus SMSI pusat, serta perwakilan SMSI dari 38 provinsi se-Indonesia.

Ini bukan hanya kebanggaan daerah, tetapi juga penanda bahwa Cilegon layak menjadi kiblat sejarah media siber Indonesia.

HPN, etika jurnalistik, literasi digital, dan Monumen Siber Indonesia adalah satu rangkaian makna: bahwa pers harus tetap berdiri di atas kebenaran, profesionalisme, dan tanggung jawab sosial. Dari Cilegon, pesan itu kembali ditegaskan untuk Indonesia.

Advertisement Space

Show More

Andika

Melihat, Berfikir dan Bergerak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!