Partai Gerindra ; Membaca Akar Perjuangan di Daerah

Oleh : Ahmad Syafaat
(Ketua Umum DPP Himpunan Mahasiswa Mathla’ul Anwar)
Menjelang Hari Ulang Tahun ke-18 Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) tepatnya pada tanggal 6 Februari 2026, bendera-bendera putih bergambar Kepala burung Garuda berwarna kuning keemasan berdiri di sepanjang jalan di Provinsi Banten . Ia berkibar pelan, berbaris rapih tanpa hiruk-pikuk, seolah tidak sedang mengajak siapa pun bersorak. Justru dalam kesederhanaannya, bendera-bendera itu memancing renungan mendalam: tentang perjalanan politik, tentang akar perjuangan, dan tentang sejauh mana partai dan kadernya benar-benar berpijak pada tanah yang membesarkannya.
Usia delapan belas tahun menandai fase kedewasaan. Bagi partai politik, usia ini harus menjadi titik konsolidasi dan evaluasi: sejauh mana komitmen awal masih terjaga, dan bagaimana orientasi perjuangan diterjemahkan dalam praktik politik sehari-hari.
Partai politik yang telah memasuki usia matang tidak lagi cukup bertumpu pada semangat awal. Ia dituntut untuk menunjukkan konsistensi, terutama dalam membangun kualitas kader. Sebab dalam praktik demokrasi, kader adalah wajah nyata partai di hadapan masyarakat.
Partai Gerindra sejak awal memposisikan diri sebagai partai yang mengusung keberpihakan kepada rakyat. Di tingkat daerah, keberpihakan tersebut diuji melalui kerja-kerja kader di akar rumput. Kader yang aktif dalam kegiatan sosial, menyerap aspirasi rakyat, serta menjadi penghubung antara masyarakat dan kebijakan publik. Peran ini kerap berjalan tanpa sorotan, namun justru menjadi fondasi kepercayaan jangka panjang.
Dalam studi yang penulis lakukan pada DPD Partai Gerindra Provinsi Banten, peran kader menjadi faktor sentral dalam menjaga relevansi partai di daerah. Kader tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana keputusan organisasi, tetapi juga sebagai penghubung antara struktur partai dan realitas sosial masyarakat.
Menurut penulis dalam kajian akademiknya menunjukkan bahwa kualitas demokrasi di tingkat daerah sangat dipengaruhi oleh kualitas kader partai politik. Kader yang memiliki kapasitas, integritas, dan kedekatan sosial akan lebih mampu menjalankan fungsi representasi dan advokasi kepentingan masyarakat.
Di Banten, banyak kader Partai Gerindra tumbuh dari lingkungan masyarakat itu sendiri. Mereka mengalami persoalan yang sama: keterbatasan ekonomi, akses pelayanan publik yang belum merata, serta tantangan pembangunan daerah. Kondisi ini membentuk kader yang relatif membumi dan dekat dengan realitas warga.
Akar perjuangan partai sesungguhnya terletak pada kader-kader seperti ini. Mereka bekerja dalam sunyi, sering kali tanpa sorotan, namun keberadaannya dirasakan langsung oleh masyarakat. Politik akar rumput bukan politik yang spektakuler, tetapi politik yang sabar dan berkelanjutan.
Banten bukan ruang yang akrab dengan politik simbolik. Di daerah ini, kepercayaan tidak tumbuh dari slogan atau seremoni, melainkan dari kehadiran yang konsisten. Politik diuji bukan di ruang konferensi, tetapi di sawah, pasar, pos ronda dan gang-gang kecil tempat masyarakat bergulat dengan kehidupan sehari-hari. Di sanalah partai politik diukur nilainya – apakah ia hadir, atau hanya sekadar lewat.
Kader, Kepemimpinan Daerah, dan Kerja Nyata
Dalam konteks ini penulis berpendapat, peran Kepala Daerah baik Gubernur, bupati dan wali kota yang berasal dari Partai Gerindra memperoleh perhatian tersendiri. Di berbagai daerah, kepemimpinan lokal kader partai tidak hanya diuji oleh kemampuan administratif, tetapi oleh keberpihakannya pada kebutuhan dasar masyarakat. Salah satu bentuk kerja nyata yang paling mudah dirasakan masyarakat adalah program-program yang menyentuh langsung kehidupan warga, seperti bedah rumah.
Program ini mungkin tidak selalu besar secara anggaran, tetapi memiliki dampak sosial yang nyata. Bagi keluarga penerima manfaat, rumah yang layak bukan sekedar bangunan fisik, melainkan simbol kehadiran negara dan kepedulian pemerintah daerah. Di daerah-daerah yang dipimpin oleh kepala daerah kader Gerindra, program ini menjadi pintu masuk untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat. Bukan karena label partainya, tetapi karena dampaknya yang langsung dirasakan.
Dalam kajian akademik penulis menjelaskan bahwa kualitas demokrasi daerah sangat dipengaruhi oleh kemampuan kader partai ketika mereka diberi mandat kekuasaan. Ketika kader mampu menjaga kedekatan dengan masyarakat dan memahami kebutuhan riil warga, kebijakan yang lahir cenderung lebih responsif. Di Banten, relasi antara kader partai, kepala daerah, dan masyarakat menjadi penentu utama keberhasilan pembangunan. Bupati dan wali kota bukan hanya representasi partai, tetapi juga representasi harapan masyarakat.
Gerakan Kerakyatan ; Bedah Rumah Sebagai Politik Kehadiran
Di sejumlah daerah provinsi Banten umumnya Indonesia, praktik politik kehadiran dapat dilihat melalui keterlibatan langsung Ketua DPC dan kader Partai Gerindra dalam program bedah rumah bagi masyarakat kurang mampu. Kegiatan ini tidak selalu berlangsung dalam sorotan besar media, namun kehadirannya nyata di lingkungan tempat warga tinggal.
Di titik inilah politik lokal bekerja bukan melalui pidato, melainkan melalui tindakan yang menyentuh kebutuhan paling mendasar.
Keterlibatan Ketua DPC bersama kader di lapangan memperlihatkan bagaimana struktur partai di daerah berfungsi sebagai simpul antara kebijakan, aspirasi masyarakat, dan kerja sosial. Dalam konteks ini, partai tidak berdiri sebagai institusi yang jauh, melainkan sebagai bagian dari kehidupan warga. Kehadiran kader di rumah-rumah sederhana masyarakat menjadi bentuk komunikasi politik yang paling jujur-tanpa jarak dan tanpa simbol berlebihan.
Secara teoritis, praktik ini sejalan dengan konsep Representasi Substantif sebagaimana dikemukakan Hanna Pitkin dalam karya fundamentalnya The Concept of Representation (1967). Kepala partai di tingkat daerah dan para kadernya dinilai bukan dari jabatan struktural semata, tetapi dari tindakan konkret yang membawa manfaat bagi warga. Bedah rumah menjadi medium representasi tersebut, di mana aspirasi masyarakat diterjemahkan langsung ke dalam kerja nyata.
Dalam perspektif demokrasi lokal, program bedah rumah juga berfungsi sebagai mekanisme pembelajaran politik. Kader partai belajar memahami persoalan riil masyarakat, sementara warga melihat langsung bagaimana kekuasaan dapat bekerja secara empatik. Relasi ini membangun kepercayaan politik yang bersifat organik, bukan hasil mobilisasi sesaat.
Banten, dengan karakter masyarakat yang kritis dan kuat secara kultural, memberikan ruang uji yang nyata bagi praktik politik semacam ini. Kepercayaan tidak dapat dibangun melalui simbol atau narasi besar semata, tetapi melalui keberlanjutan tindakan. Oleh karena itu, konsistensi Ketua DPC dan kader Gerindra khususnya di Provinsi Banten umumnya seindonesia dalam melakukan bedah rumah menjadi penanda penting tentang bagaimana partai berupaya menanamkan akar perjuangan di tingkat lokal.
Jika ditarik lebih jauh, praktik ini mencerminkan apa yang dikemukan oleh Pierre Bourdieu seorang sosiolog Prancis disebut sebagai akumulasi modal simbolik. Ketika partai dan kadernya hadir dalam kerja-kerja sosial yang berdampak langsung, mereka membangun legitimasi yang lahir dari pengakuan masyarakat. Modal ini tidak bisa direkayasa, melainkan tumbuh dari interaksi yang terus-menerus dan tulus.Dengan demikian, bedah rumah di daerah tidak hanya dapat dibaca sebagai program bantuan sosial, tetapi sebagai praktik politik kehadiran yang memperkuat relasi antara partai, kader, dan masyarakat.
Di momentum HUT Partai Gerindra ke-18 dengan mengusung tema “Kompak, Bergerak dan Berdampak” sebagai praktik yang menunjukkan bahwa akar perjuangan di daerah masih dirawat melalui kerja nyata, bukan sekadar dirayakan melalui simbol.
HUT Partai Gerindra ; Menjaga Akar, Menatap Masa Depan
Setiap ulang tahun bukan sekedar penanda usia, melainkan momen jeda untuk bercermin. Di titik inilah Partai Gerindra berdiri hari ini menatap ke belakang untuk memastikan akarnya masih kuat menancap di tanah rakyat, sekaligus menengadah ke depan untuk membaca arah zaman yang terus bergerak.
HUT Partai Gerindra bukan hanya perayaan euforia semata, melainkan perayaan atas sebuah gagasan besar: keberanian untuk berdiri di tengah rakyat dan konsistensi memperjuangkan kedaulatan.
Di Banten, akar itu tumbuh dengan cara yang khas. Ia tidak lahir dari gedung-gedung megah atau jargon kosong, melainkan dari kerja sunyi, perjumpaan langsung, dan kesetiaan kader pada denyut sosial masyarakat.
Nama Prabowo Subianto, sebagai Ketua Umum dan Presiden Republik Indonesia, menjadi simbol utama dari perjalanan ideologis Partai Gerindra. Gagasan tentang kemandirian bangsa, keberpihakan pada wong cilik, dan keberanian melawan ketimpangan struktural, menemukan resonansinya hingga ke daerah. Di Banten, semangat itu diterjemahkan oleh para tokoh dan kader dengan bahasa lokal: kerja nyata, pendekatan kultural, dan loyalitas pada kepentingan publik.
Di tingkat provinsi, kepemimpinan Partai Gerindra Banten menunjukkan bagaimana partai ini berupaya menjaga keseimbangan antara disiplin organisasi dan fleksibilitas sosial. Kader-kader Gerindra di DPRD, kepala daerah, hingga struktur partai, tidak hanya dituntut piawai berpolitik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial. Politik tidak berhenti di ruang sidang, tetapi hidup di sawah, pasar, kampung nelayan, dan rumah-rumah sederhana yang menyimpan harapan.
Tokoh-tokoh Partai Gerindra di Banten baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota mewakili wajah partai yang beragam namun satu tujuan. Ada yang datang dari latar aktivisme, ada yang tumbuh dari dunia profesional, ada pula yang ditempa dari organisasi kepemudaan.
Keragaman ini justru menjadi kekuatan, karena Partai Gerindra di Banten tidak dibangun oleh satu wajah, melainkan oleh kerja kolektif dan kesadaran ideologis yang sama: politik harus membumi.
Dalam praktiknya, kerja-kerja kerakyatan menjadi penanda penting. Program sosial, pendampingan masyarakat, advokasi kebijakan daerah, hingga kegiatan sederhana seperti bedah rumah, bantuan pendidikan, dan penguatan UMKM, bukan sekedar aktivitas seremonial. Ia adalah cara partai merawat ingatan publik—bahwa Partai Gerindra hadir bukan hanya untuk menang, tetapi untuk bertahan bersama rakyat dalam situasi sesulit apa pun.
Namun, menjaga akar saja tidak cukup. Tantangan ke depan jauh lebih kompleks. Masyarakat semakin kritis, ruang digital semakin bising, dan politik identitas kerap mengaburkan substansi. Di sinilah Partai Gerindra diuji: mampukah ia tetap relevan tanpa kehilangan jati diri? Di Banten, upaya regenerasi kader, keterbukaan terhadap gagasan baru, serta keberanian berdialog dengan anak muda menjadi kunci untuk menatap masa depan tanpa tercerabut dari sejarah.
Partai Gerindra Provinsi Banten hari ini berada di persimpangan penting. Di satu sisi, ia memikul warisan perjuangan; di sisi lain, ia dituntut menjadi partai modern yang adaptif. Kekuatan sejatinya bukan pada besarnya struktur, melainkan pada kualitas kader dan kejujuran niat dalam berpolitik. Partai yang besar bukan yang paling sering bicara, tetapi yang paling konsisten bekerja.
Hari Ulang Tahun Partai Gerindra menjadi pengingat bahwa politik adalah perjalanan panjang. Menjaga akar berarti terus setia pada nilai-nilai dasar: keberpihakan, keadilan, dan keberanian. Menatap masa depan berarti membuka diri pada perubahan tanpa kehilangan kompas ideologis. Di Banten, perjalanan itu masih dan akan terus berlangsung—di tangan para tokoh, kader, dan simpatisan yang percaya bahwa politik bisa dan harus berpihak pada rakyat.
Pada akhirnya, Partai Gerindra bukan sekedar partai, melainkan ruang perjuangan. Selama akar itu dirawat dan arah itu dijaga, masa depan bukan sesuatu yang ditakuti, melainkan sesuatu yang disiapkan bersama.
Hari kelahiran Partai Gerindra seharusnya menjadi penguat komitmen bahwa perjuangan politik harus tetap berakar di daerah.
Jika Partai Gerindra mampu terus melahirkan kader-kader yang berpikir, bekerja, dan berjuang dari daerah, kader-kader yang setia pada rakyat, maka partai ini tidak hanya akan bertahan secara elektoral, tetapi juga memberi makna bagi demokrasi Indonesia.
Selamat Hari Hari Kelahiran Partai Gerindra Ke-18 Tahun.
Semoga usia yang bertambah tidak menjauhkan dari rakyat, tetapi justru semakin mendekatkan, dari pusat hingga pelosok, dari elite hingga ke akar rumput.

