CilegonPeristiwaTerkini

Dugaan Penyelewengan Dana Event Musik di Cilegon, Crew Belum Terima Honor hingga Ditekan Jual Karya Seni

Cilegon – Pelaksanaan event musik bertajuk Pop Up Market Ramadhan sale yang digelar di Cafe Semilir Senja menuai polemik. Sejumlah crew yang terlibat mengaku belum menerima honor kerja hingga beberapa hari setelah acara berakhir.

Event yang berlangsung selama delapan hari, sejak 8 hingga 15 Maret 2026 tersebut menghadirkan konser musik lokal serta penampilan seni dari sejumlah seniman, termasuk pelukis asal tanggerang kang Edi bonetski. Kegiatan ini juga diketahui mendapatkan pemasukan dari berbagai sumber, mulai dari sponsor seperti Djarum dan Nagaswara, hingga penjualan merchandise dan tiket harian.

Namun, di penghujung acara, pihak penyelenggara yang dipimpin oleh founder dengan inisial DM atau Deadmore Entertainment diduga tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran honor kepada para crew yang sudah bekerja selama 8 hari tersebut.

Permasalahan tidak hanya dialami oleh crew. Sejumlah vendor yang terlibat dalam penyelenggaraan acara juga dilaporkan belum mendapatkan hak pelunasan pembayaran, sekitar 80% dari total harga yang sudah disepakati bersama pihak vendor dan deadmore ent belum di bayarkan hingga saat ini. Selain itu, beberapa band lokal yang tampil dalam event tersebut disebut belum menerima bayaran atas penampilan mereka.

Salah satu crew yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa sebelumnya pihak founder telah berjanji akan melunasi pembayaran maksimal pada Rabu, 18 Maret 2026. Namun hingga Senin, 7 April 2026 terhitung sudah 23 hari dari acara selesai, belum ada kejelasan terkait pembayaran dari pihak deadmore ent tersebut.

“Awalnya dijanjikan akan dibayar penuh, tapi sampai sekarang belum ada kepastian, padahal penghasilan ini diharapkan oleh saya dan temen temen crew yang lain untuk menjelang lebaran. Alih-alih mendapatkan bayaran, justru kami mendapat tekanan untuk membantu menjual karya seni,” ujarnya.

Advertisement Space

Tidak hanya itu, para crew juga mengaku diminta untuk menjual lukisan karya seniman yang tampil dalam acara tersebut sebagai upaya menutup kekurangan dana. Bahkan, terdapat arahan untuk menarik kembali uang bayaran dari band-band lokal yang telah tampil.

Kondisi ini menimbulkan dugaan adanya penyalahgunaan dan penggelapan dana yang bersumber dari sponsor maupun pendapatan event. Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak founder Deadmore Entertainment terkait permasalahan tersebut.

Para crew berharap adanya itikad baik dari pihak penyelenggara untuk segera menyelesaikan kewajiban pembayaran, baik kepada crew, vendor, maupun para pengisi acara, serta memberikan kejelasan atas kondisi yang terjadi.

Show More

Andika

Melihat, Berfikir dan Bergerak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!