Ruang Tokoh

Serba – serbi Sosok yang Biasa Muncul dalam Politik Kampus

SABBA.ID | #Opini Politik sangat dibutuhkan manusia, sebab manusia tidak terlepas dari kepentingan untuk memenuhi kebutuhannya muka bumi. Politik tidak hanya terdapat di ruang lingkup pemerintahan, namun lebih dari itu dalam segala dimensi di kehidupan sosial manusia politik sangat dibutuhkan. Sebab dengan berpolitik berarti manusia berfikir dengan menggunakan akal untuk sebaik-baiknya demi mencapai tujuan.

Politik kampus berbeda dengan poltik pemerintahan, karena harusnya lebih mengedepankan nilai-nilai intelektual dalam berproses dan belajarnya sebagai panggung politik awal sebelum terjun ke masyarakat.
Seperti diketahui bahwa kampus merupakan sarana simulasi berdemokrasi bagi mahasiswa. Kampus sebagai miniatur of state harus dapat melahirkan kaum cendekiawan yang visioner dari demokrasinya.

Ada beberapa tipe-tipe sosok yang biasa muncul pada saat Pemilihan Umum Mahasiswa (PUM) yaitu diantaranya;
Sosok yang membawa kepentingan organisasi, sosok yang mengatasnamakan indpenden (tanpa organisasi) tapi Bulshit dimana sebetulnya sosok ini membawa banyak kepentingan dibelakangnya, dan yang terakhir adalah sosok yang berorganisasi tapi tergerak oleh keinginan yang tulus demi mengatasi keresahan dan kebobrokan dalam sistem yang ada.

Kita tahu bahwa seorang sosok yang membawa kepentingan organisasi atau kelompok itu sangat tidak baik, apalagi seorang sosok yang mengatasnamakan independen tapi ia berhasil membohongi publik, padahal siasat seperti ini hanya untuk ajang kampanye saja, untuk bagaimana menarik suara atau memenangkan hati warga kampus sebanyak mungkin.

Tapi, pada faktanya kebanyakan dari mahasisawa apalagi bagi mahasiswa baru lebih rentan dipengaruhi oleh doktrin maupun agitasi yang dimainkan kepada publik. Dengan mengatasnamakan independen mahasiswa dibuatnya agar se-irama dengannya dalam memilih sosok yang kurang visioner ataupun berkompeten dalam kepemimpinannya.

Selain itu, mahasiswa pada umumnya nanti yang akan memilih harus peka dan kritis serta menjadi pemilih yang cerdas. Pemilih yang cerdas adalah mereka yang mencari tahu sosok calon yang akan ia pilih seperti mencari tahu dari rekam jejak sosok tersebut, hal ini bisa dilihat dari sosial medianya. Dengan mencari tahu semua sosok yang akan maju dalam kontestasi politik lalu bandingkan mereka, itu merupakan suatu ciri pemilih yang cerdas.

Memilih sosok bukan atas dasar kedekatan emosional maupun non emosional, tapi sosok yang mempunyai kapasitas dan kapabilitas yang mempuni baik itu sisi akademis, keilmuan maupun retorika serta wawasan yang baik. Karena nantinya hal ini akan berdampak panjang terhadap masa kepemimpinannya dalam kampus agar dapat menciptakan kampus yang inovatif, kreatif, dan progresif untuk mencapai tujuan yang diharapkan para warga kampus.

Segala proses nantinya yang ada di politik kampus, mahasiswa sebagai partisipan wajib untuk memilih dan memiliki hak dalam mengontrol dan mengamati jalannya demokrasi di kampus agar bebas dari proses demokrasi yang tidak baik.

Untuk itulah menjadi pemilih yang cerdas menjadi suatu keniscayaan apabila mengharapkan peradaban kampus yang lebih baik kedepan. Esensi dari nilai akademis dan keilmuan mahasiswa harus lebih diprioritaskan ketimbang sebatas eksitensi yang jauh dari substansi mahasiswa yang dikatakan sebagai kaum intelektual.

Penulis : Wisnu Ruslly Pratama (Mahasiswa UIN Banten)

Show More

Redaksi

Teruntuk pembaca setia Sabba “Semua harus ditulis, apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna” (Pramoedya Ananta Toer)

Komentari Berita

Related Articles

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!