KONFERDA VI Tetapkan Endang Kurnia sebagai Ketua DPD GMNI Banten

SABBA.id, Pandeglang – Suasana Konferensi Daerah (KONFERDA) VI DPD Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Banten di Pandeglang, Minggu, 11 Januari 2026, belum sepenuhnya reda. Di tengah dinamika forum dan adu gagasan yang berlangsung intens, satu nama akhirnya ditetapkan untuk memegang estafet kepemimpinan: Bung Endang Kurnia, Ketua DPD GMNI Banten terpilih.
Usai penetapan tersebut, Bung Endang menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal struktur, melainkan tanggung jawab ideologis dan keberpihakan nyata pada rakyat.
“Ini bukan kemenangan personal. Ini amanah kolektif kader GMNI di tanah Banten untuk merajut kembali persatuan gerakan dan memastikan GMNI tetap setia pada rakyat,” ujar Endang kepada awak media.
Mengusung tema revitalisasi gerakan dalam KONFERDA VI, Endang menilai GMNI Banten harus melakukan pembenahan menyeluruh, baik secara ideologis maupun organisatoris.
“Revitalisasi gerakan bukan sekadar jargon. Artinya kader harus kembali ideologis, organisasi harus rapi dan sistematis, serta GMNI harus berdiri berdikari—tidak tergantung pada kepentingan di luar garis perjuangan,” tegasnya.
Menurutnya, GMNI tidak boleh terjebak dalam rutinitas forum seremonial. Gerakan mahasiswa, kata Endang, harus kembali menyentuh persoalan riil rakyat.
Dalam kepemimpinannya ke depan, Endang menyebut DPD GMNI Banten akan memprioritaskan isu-isu strategis yang selama ini menjadi problem struktural di daerah.
“Banten menghadapi persoalan serius, mulai dari ketenagakerjaan, konflik agraria, industrialisasi yang menyingkirkan rakyat, GMNI harus hadir dan berpihak dalam isu-isu itu,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kader GMNI harus turun ke basis rakyat—kampung, pabrik, dan ruang-ruang konflik sosial—bukan hanya berhenti pada diskusi kampus.
Menanggapi dinamika internal DPD GMNI Banten yang sempat menguat selama proses KONFERDA, Endang menilai perbedaan adalah bagian dari tradisi organisasi kader.
“Dialektika adalah napas GMNI. Yang penting, perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan. KONFERDA ini justru menunjukkan bahwa GMNI Banten masih hidup secara intelektual dan organisatoris,” katanya.
Ia berkomitmen menjadikan kepemimpinannya sebagai ruang konsolidasi, bukan eksklusi.
Endang juga menegaskan posisi GMNI Banten yang solid dan tegak lurus terhadap kepemimpinan nasional GMNI di bawah Ketua Umum DPP GMNI, Bung Sujahri Somar.
“Kesatuan nasional adalah fondasi. Tanpa itu, GMNI akan kehilangan arah sebagai organisasi perjuangan. GMNI Banten berdiri satu barisan dengan DPP,” tegasnya.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi modal, Endang melihat peran mahasiswa semakin krusial sebagai benteng ideologi dan moral.
“Globalisasi tidak boleh membuat kita tercerabut dari realitas rakyat. GMNI harus menjadi pelopor perlawanan terhadap penindasan, ketimpangan, dan pembungkaman demokrasi,” ujarnya.
Menutup wawancara, Endang menyampaikan pesan tegas kepada seluruh kader GMNI Banten.
“Tetap kritis, berani, dan setia pada perjuangan rakyat. Jangan lelah belajar, jangan takut berjuang, dan lagi-lagi saya tegaskan jangan pernah lupakan amanat penderitaan rakyat,” tutupnya.
Dengan kepemimpinan baru ini, GMNI Banten diharapkan kembali menemukan denyut perjuangannya—sebagai organisasi kader, organisasi kader perjuangan, dan alat perjuangan rakyat.





