PeristiwaRuang TokohSerang

Merawat Tradisi Pasaran Ramadhan untuk Kemajuan Peradaban

Oleh : Muhammad Soleh

Ngaji pasaran Ramadhan merupakan tradisi yang akrab di kalangan masyarakat pesantren, baik salafi maupun modern. Kegiatan ini lazim dilaksanakan selama bulan suci Ramadhan, mulai dari awal hingga menjelang Idulfitri. Dalam forum tersebut, para santri dari berbagai daerah berkumpul untuk mengkaji kitab kuning yang sebelumnya belum mereka pelajari. Pasaran bukan sekadar ruang belajar, melainkan juga wadah pembuktian kesungguhan serta pendalaman pengalaman intelektual dalam tradisi keilmuan Islam.

Lebih dari agenda tahunan, ngaji pasaran Ramadhan menjadi titik temu antara ibadah, budaya, dan solidaritas sosial. Spiritualitas tumbuh beriringan dengan penguatan tradisi intelektual. Ia bukan seremoni musiman, tetapi proses kolektif pembentukan karakter dan pendalaman makna keimanan.

Tradisi pasaran tidak lahir secara tiba-tiba. Ia berakar panjang dalam sejarah masyarakat Nusantara. Sejak dahulu, para kiai dan ulama menghidupkan kajian kitab pada bulan Ramadhan sebagai momentum penguatan ilmu. Tradisi ini diwariskan lintas generasi dan menjadi bagian integral dari ekosistem pendidikan pesantren.

Masuknya Islam ke Indonesia sekitar abad ke-7 Masehi melalui jalur perdagangan menjadi titik awal perjumpaan antara ajaran tauhid dan budaya lokal. Interaksi tersebut melahirkan corak keberagamaan yang khas, nilai-nilai Islam menyatu dengan adat dan tradisi setempat. Dalam konteks ini, pasaran Ramadhan hadir sebagai ekspresi budaya intelektual yang menunjukkan bagaimana Islam berkembang tanpa tercerabut dari akar sosialnya.

Di tengah arus modernisasi dan menguatnya individualisme, banyak metode pembelajaran tradisional mulai terpinggirkan. Namun pasaran Ramadhan tetap bertahan, bahkan tetap diminati. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan peradaban tidak selalu lahir dari teknologi mutakhir, melainkan juga dari konsistensi menjaga tradisi keilmuan yang kokoh dan berkelanjutan.

Advertisement Space

Ramadhan sendiri bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Ia adalah momentum penguatan hubungan vertikal dengan Allah (hablumminallah) sekaligus hubungan horizontal dengan sesama manusia (hablumminannas). Bulan ini menjadi ruang pelipatgandaan amal kebaikan serta latihan kesabaran dalam mengendalikan hawa nafsu.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:

> مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيرَانِ
> “Barang siapa yang berbahagia menyambut kedatangan bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka.”

Pasaran Ramadhan memperkuat dimensi intelektual dari spiritualitas tersebut. Materi kajian umumnya meliputi fikih, tauhid, dan tasawuf. Perpaduan ketiganya membentuk keseimbangan antara aspek hukum, keyakinan, dan penyucian jiwa. Dari proses ini diharapkan lahir santri yang tidak hanya taat secara ritual, tetapi juga matang dalam pemikiran dan bijak dalam bersikap.

Selain sebagai ruang belajar, pasaran juga menjadi ajang silaturahmi lintas daerah. Pertemuan antar-santri membuka ruang pertukaran gagasan dan pengalaman keilmuan. Dinamika ini memperkaya khazanah pemikiran Islam sekaligus memperkuat jejaring intelektual antar komunitas pesantren.

Merawat tradisi pasaran Ramadhan berarti merawat fondasi peradaban. Peradaban yang kokoh tidak hanya dibangun dengan infrastruktur fisik, tetapi juga dengan budaya literasi dan tradisi kajian yang berkesinambungan. Selama tradisi ini terus dijaga dan dikembangkan, ia akan tetap relevan bahkan semakin penting di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat.

Tradisinya boleh klasik, tetapi visi peradaban yang dikandungnya sangat progresif. Dan itu bukan perkara kecil.

Show More

Andika

Melihat, Berfikir dan Bergerak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!