Gaya HidupRuang Tokoh

Syahrizal Salsabila Shaifana: Antara Lari dari Kebebasan Dan Stoic

Ekspetasi dan realitas adalah 2 hal yang sampai kapanpun akan kita temui di dalam kehidupan kita sebagai manusia namun, ada kala ekspetasi mampu melahirkan realitas yang kita harapkan dan terkadang realitas membuat kita tak bisa berekstasi terlalu banyak, atau mungkin ekspetasi tak selalu sesuai dengan harapan yang kita inginkanManusia adalah makhluk yang unik.

Manusia bukan hanya memiliki daya nalar dan berpikir sebagai sebuah bentuk materi, tapi terkadang dia bisa bermanifestasi menjadi sebuah bentuk atau kehendak lain walaupun sebagian ada yang tidak menyadarinya. Manusia digambarkan makhluk paling sempurna di muka bumi ini, dan segala tindakan yang dilakukan oleh manusia tidak bisa lepas dari keadaan sosial dan alam yang membuat manusia terus di asah untuk bagaimana bertransformasi sedemikian rupa untuk menjadi lebih baik.

Terkadang perubahan transformasi manusia selalu memaksa untuk dirinya menjadi orang lain atau mungkin berubah menjadi binatang buas jika bila di perlukan untuk bagaimana dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.

Sejarah perkembangan manusia dari era pra sejarah sampai sekarang dikaitkan dengan revolusi sosial 5.0 telah membuktikan bahwa persaingan antar individu sudah menjadi semakin nyata dan jelas dan diamini oleh sebagian hal layak manusia ketika memasuki pandemi, dimasa pandemi gerak laju aktivitas manusia yang biasanya leluasa untuk bergerak dan melakukan segala macam bentuk aktivitas kemudian tersekat oleh sebuah virus mematikan yang telah memakan korban jutaan jiwa Hal ini membuat semakin banyak dari manusia merasa dirinya kembali terkurung di dalam sangkar sederhana yang kemudian binggung kemana harus melangkah, seperti lebah yang kehilangan ratunya dia akan menjadi semakin liar.

Menurut Erich Fromm manusia awalnya adalah makhluk tersekat dari ketidak bebaskan kemudian dia mencari banyak cara agar dia bisa mendapatkan kebebasan yang ia inginkan, dan ketika manusia telah mencapai apa yang mereka inginkan mereka akan mengalami diistegrasi mental, banyak faktor yang membuat manusia kini mengalami diistegrasi mental bahkan penyakit mental sudah menjadi masalah serius di Republik ini tapi kemudian itu dianggap tidak terlalu penting dan tak jarang juga menjadi bahan guyunan oleh beberapa oknum manusia.

Beberapa dari mereka ada yang kemudian bisa melepaskan diri dari jerat belenggu yang mengikatnya dan ada sebagian dari mereka terus terhisap ke dalam lumpur hisap yang akhirnya membuat mereka lupa bahwa kita ini manusia, dalam hidup ada beberapa hal yang dapat kita kendalikan dan tidak dapat kita kendalikan.

Memikirkan hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan dapat memunculkan perasaan negatif terhadap diri kita. Sebagai manusia, kita tidak boleh menggantungkan kebahagiaan kita kepada hal yang ada di luar kendali kita seperti karir, kesehatan, kekayaan, reputasi, cinta dan lain sebagainya. Untuk itu, mengontrol hal-hal yang bisa kendalikan itu lebih baik dan dapat menciptakan ketenangan semua hal yang terjadi dalam kehidupan kita itu pasti ada alasannya atau ada penyebabnya.

Tidak mungkin semua itu terjadi begitu saja. Oleh karena itu hal baik ataupun buruk harus selalu kita syukuri, harus kita terima dengan ikhlas namun tetap dibarengi oleh usaha untuk menjadi lebih baik. Alam semesta bekerja dalam harmoni. Maka, sebagai manusia kita juga harus bertindak mengikuti alam semesta,dengan kata lain, kita harus hidup harmonis dengan alam semesta.

“Kebebasan ternyata bukan soal penting bagi manusia. Sebab, ia tak pernah ada dalam kenyataannya”.

Penulis : Syahrizal Salsabila Shaifana

Show More

Redaksi

Teruntuk pembaca setia Sabba “Semua harus ditulis, apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna” (Pramoedya Ananta Toer)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!