HukrimPeristiwaTangerang RayaTerkini

Babak Baru Kasus Raymon: Polisi Masih Lidik, Keluarga Serahkan Bukti Baru ke Penyidik

SABBA.id, Tangerang Raya – ​Teka-teki kematian Raymon Wirya Arifin (19) yang jasadnya ditemukan di aliran Kali Cisadane pada Juli lalu hingga kini masih menyisakan kabut tebal.

Pasalnya, pihak kepolisian cenderung menduga korban mengakhiri hidupnya sendiri, pihak keluarga melalui kuasa hukumnya justru mencium adanya aroma tindak penganiayaan sebelum korban meregang nyawa.

Dugaan tersebut diperkuat dengan adanya temuan medis pada hasil otopsi yang menunjukkan luka tak wajar di tubuh remaja tersebut.

Kuasa hukum keluarga korban dari LBH IPTI, Samatha Putra mengungkapkan, berdasarkan hasil diskusi langsung dengan dokter forensik, ditemukan adanya resapan darah di beberapa bagian vital tubuh korban.

“Hasil forensik menunjukkan adanya resapan darah di bagian kepala, leher, dan bahu. Menurut keterangan dokter yang saya temui langsung, resapan darah itu akibat hantaman benda tumpul,” ujar Samatha usai mendampingi orang tua korban menjalani pemeriksaan tambahan di Mapolsek Karawaci, Rabu, 31 Desember 2025.

Menurut Samatha, fakta medis ini menjadi dasar kuat bagi keluarga untuk meragukan narasi bunuh diri. Meski penyebab kematian dinyatakan karena tenggelam (adanya air di paru-paru), namun keberadaan luka hantaman benda tumpul sebelum korban tenggelam menjadi tanda tanya besar yang harus diungkap penyidik.

Advertisement Space

“Kami meminta pihak kepolisian untuk lebih mendalami lagi hasil otopsi tersebut. Kami dari keluarga tetap menduga kuat adanya unsur penganiayaan,” ujar dia.

Pemeriksaan yang berlangsung hingga larut malam tersebut mencecar orang tua almarhum dengan 12 pertanyaan, terutama mengenai aktivitas terakhir Raymon pada rentang tanggal 16 hingga 18 Juli 2025.

Diketahui, sang ayah merupakan sosok yang setiap hari mengantar jemput Raymon ke tempat kerja. Minim Petunjuk, Polisi Masih Lidik.Di sisi lain, pihak kepolisian tampaknya masih berpijak pada dugaan awal.

Kanit Reskrim Polsek Karawaci, AKP Riono, menyatakan bahwa hingga saat ini dugaan terkuat mengarah pada tindakan bunuh diri.

“Sementara diduga keras korban bunuh diri. Berdasarkan keterangan di lapangan, korban diketahui tidak memiliki musuh. Barang-barang yang sempat dikira hilang seperti laptop, ternyata ditemukan ada di rumahnya,” jelasnya saat dikonfirmasi.

Namun, ia tidak menampik bahwa kasus ini masih dalam proses penyelidikan (lidik) untuk memastikan motif dan penyebab pasti kematian. Salah satu kendala utama yang dihadapi penyidik adalah hilangnya ponsel milik korban yang diduga ikut tenggelam di dasar Kali Cisadane.

“Kami masih mencari bukti-bukti lain. Untuk menyimpulkan (tersangka) tidak bisa langsung, harus ada minimal dua alat bukti yang sah. Kami minta pihak keluarga untuk bersabar dan bisa menerima kondisi ini dengan ikhlas,” tambahnya.

Babak Baru Setelah Tahun BaruKasus yang berjalan hampir setengah tahun sejak Juli lalu ini diakui memang cukup berat karena minimnya saksi mata di lokasi kejadian. Namun, Samatha Putra menyebut pihaknya telah mengantongi beberapa petunjuk baru yang telah diserahkan kepada penyidik.

“Sudah ada perkembangan, ada beberapa hal yang mulai dikulik kembali oleh Polsek. Kami sepakat untuk saling terbuka dan aktif bertukar informasi,” kata dia.

Rencananya, penyidik akan kembali melakukan pemanggilan saksi-saksi tambahan dari pihak luar keluarga pada awal Januari mendatang. Agenda pemeriksaan tersebut diharapkan mampu menyingkap tabir gelap di balik kematian tragis remaja berusia 19 tahun tersebut.

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!