Gaya HidupKomunitas

Belajar Konsep Hidup Minimalis, Kumandang Untirta Explorasi Pedalaman Suku Baduy

SABBA.ID | Keluarga Mahasiswa Pandegalang (Kumandang) Banten Komisariat Untirta kunjungi Suku Baduy (Cibeo) Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak pada Rabu (6/1).

Dalam eksplorasi yang diikuti 30 peserta ini mampu melihat gaya hidup yang terkesan minimalis penuh makna, perlu sesekali mengunjungi suku baduy sebagai destinasi yang cocok jadi bahan refleksi ditengah kepungan hutan beton yang tinggi atau mal dengan beragam diskon hari ini.

Senada dan perilaku sederhana yang ditampilkan ini, Ketua Umum Kumandang Banten Untirta menilai bahwa kita harus terus menjaga baik dari dalam maupun luar baduy.

“Dengan bentang alam seluas 5.136 hektare ini kekhasan dan keunikan harus kita junjung dan pertahankan, apa yang sejatinya menjadi nilai leluhur dan mengandung makna kebaikan”, tutur lutfi saat diwawancarai.

Karena hal tersebut, program kumandang explore yang juga berkolaborasi dengan @bantamtraveler menjadi momen berkesan setiap peserta yang ikut dalam gagasan salah satu organisasi kedaerahan di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ini.

Pada situasi pandemi covid-19 tak sedikit masyarakat di lingkungan sekitar terutama anak muda semakin dimudahkan mengakses berbagai e-commerce atau marketplace di ponsel pintarnya untuk berbelanja.

Sehingga pada beberapa orang seringkali membeli sesuatu yang bukan atau bahkan tidak begitu penting atau punya keinginan yang sementara pada barang yang dibelinya berimbas pada pengeluaran yang tak terkontrol atau bisa di sebut (impulsive buying).

Sebagaimana menurut Fumio Sasaki dalam bukunya goodbye things, minimalis adalah seseorang yang benar-benar mengetahui apa yang penting bagi dirinya sendiri dan tetap mempertahankan hal-hal tersebut untuk dirinya.

Hal ini tercerminkan dari pola kehidupan baduy dalam (Cibeo) saat dikunjungi kelompok mahasiswa asal Pandeglang sebagai manifestasi dari ajaran leluhur baduy.

Terlihat dari apa yang mereka gunakan seperti pakaian, perkakas dan kebutuhan primer yang sederhana saat kita melihat warga Suku Baduy (Suku Badui) melintas di pinggir jalan, tak beralas kaki, hanya mengenakan baju kain sederhana, berikut ikat di kepalanya. Saat ditanya, mereka menjawab hendak menjual madu atau mengunjungi saudara di kota.

Kesederhanaan yang terpancar tanpa merusak alam dan perilaku sehari hari bagi mereka (suku baduy) membukakan mata peserta akan sesuatu yang sebenarnya cukup bagi kebutuhan kehidupan manusia, berbelanja secukupnya, membeli barang dengan jumlah yang porsional serta menggunakannya dengan baik.

Meskipun ada saja tersebar berbagai pandangan negatif tentang suku baduy.

“Masih banyak nyatanya diluar sana anggapan negatif seperti suku baduy dengan ucapan yang kasar, pola perilaku yang tidak sopan” ujar Deden salah satu pemandu wisata @bantamtraveler ini.

Kendati demikian melakukan obrolan secara langsung dengan warga disana sangat membuka pandangan peserta tentang keaslian budayanya.

Selain keunikan yang jelas dirasakan peserta, kesederhanaannya selalu mengetuk hati dan pikiran kita tentang pentingnya merasa cukup.

Akhirnya timbul pertanyaan dibenak kita, apakah kita tipe orang yang memiliki jumlah barang menumpuk yang jarang terpakai? atau malah memiliki barang sedikit tapi sangat fungsional dan memiliki value untuk diri sendiri? Coba deh pikirkan lagi, apakah kita nyaman dengan kondisi saat ini?

Bagaimana? Sudah pernah ke baduy? belajar sekaligus berwisata menjadi ide menarik untuk masuk wishlist di awal tahun.

Penulis : Khaerul Tamami

Khaerul Tamami Sekretaris Umum Keluarga Mahasiswa Pandeglang (Kumandang) Banten Komisariat Untirta. Mahasiswa FKIP Untirta angkatan 2017 yang gemar menulis mengenai gaya hidup manusia Abad 21.

Show More

Redaksi

Teruntuk pembaca setia Sabba “Semua harus ditulis, apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna” (Pramoedya Ananta Toer)

Komentari Berita

Related Articles

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!