Gaya HidupKesehatan

Hadapi 2022: Simak dan Pahami Fenomena “Modern Loneliness”

Menghadapi tahun 2022 sebagai manusia modern kini adalah generasi yang paling aktif dan berisik dengan manusia-manusia lainnya. Namun, mengapa banyak orang justru merasa dekat tapi terasa jauh dan sebaliknya?

Sekilas terbawa alunan lirik dari seorang penyanyi Lauv.

Modern loneliness, we’re never alone

But always depressed, yeah

Love my friends to death

But I never call and I never text”

— Lauv, Modern Loneliness

Tampak sebuah tamparan bagi generasi saat ini dilintasi fakta realitas yang relatable. Sebagai seorang yang memiliki obsesi besar dan pengalaman nyata pernah sampai addictive di sosial media, lagu yang menghujam diri ini dan terbesit betapa akuratnya dengan kondisi modern.

Mereka dalam rentang usia awal 20-an hingga akhir 30-an, juga generasi di bawahnya menjadi rombongan tau usia usia pengguna medsos terbesar. Dampak yang ditimbulkan macam-macam. Merujuk pada riset Elizabeth Miller dari University of Pittsburg misalnya, yaitu rasa kesepian kronis yang semakin memuncak seiring berjalannya roda modernitas.

Betul dan benar jika sosial media dan teknologi menjadi elemen kemajuan saat ini, bagaimana mungkin dulu menerima balasan percakapan harus menunggu 2 sampai 4 hari melalui surat dan sekarang hanya beberapa detik saja pesan bisa tersampaikan secara real time di lokasi yang jauh berbeda.

Belum lagi sosial media bisa menjadi ladang mencari cuan dengan social media marketing-nya. Namun kadang lupa bahwa semua yang terjadi ada konsekuensinya, kesepian di era modern salah satunya.

Yuk cek lebih lanjut!

Kacamata lain melihat bahwa “modernitas” adalah istilah yang muncul pertama kali di bagian Eropa pasca-abad pertengahan yang berarti “terkini”. Dari mana asalnya? Dari beberapa sumber bahwa modernitas tumbuh dari kelaparan manusia akan rasa ingin tahu, yang kemudian menghasilkan pengetahuan membangun peradaban yang berkembang kian hari.

Siapa sangka dari jaman dulu soal penemuan mesin cetak tahun 1440 manusia dapat mencapai titik sampai hari ini, hampir semua aktifitas dilakukan dengan ketukan jari kedua tangan saja.

But then what? kemudahan dan transformasi ini era menghasilkan permasalahan yang nampak baru bagi manusia, yaitu keterasingan dan kesepian yang meradang.

Kesepian, secara terminologi bahasa Inggris “Loneliness” menurut Bruno (2000) adalah keadaan mental dan emosional yang dicirikan adanya perasaan terasing dan kurangnya hubungan yang bermakna dengan orang lain.

Penulis dalam hal ini melihat ada dua pokok ciri kesepian di jaman modern dari kutipan di atas yaitu, perasaan terasing dan kurangnya hubungan bermakna.

Yang pertama adalah perasaan terasing. Lautan informasi dan teknologi, kita menjadi makhluk yang terasing lebih dari era manapun dalam sejarah manusia. Kini anak anak, pelajar, mahasiswa dan semua kian hari kian asing terhadap sesamanya, jari berselancar di atas gawai, mata terpaku menikmati konten dalam gawainya sendiri, dan kadang abai terhadap sesama di sekitar (bahkan di hadapannya), semua terlihat seperti Zombie saat di bus atau kereta misalnya.

Kedua, makna yang terbangun secara online memungkinkan kedekatan secara emosional dan pembiasaan (habituasi) persaudaraan atau upaya-upaya pendekatan nampak berkurang.

Show More

Komentari Berita

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!