IKA UIN Banten Harus Menjadi Ruang Rekonsiliasi Alumni, Bukan Arena Delegitimasi

Dinamika yang terjadi dalam tubuh Ikatan Alumni (IKA) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten belakangan ini menunjukkan bahwa organisasi alumni masih menghadapi persoalan mendasar terkait legitimasi, komunikasi, dan konsolidasi antaralumni. Namun demikian, situasi ini seharusnya tidak dibawa ke ruang konflik terbuka yang justru berpotensi merusak marwah almamater.
Menanggapi pemberitaan mengenai tudingan “Munas ilegal” serta penyebutan adanya “teror terhadap kebijakan rektor”, Sultan selaku alumni menilai bahwa polemik IKA perlu ditempatkan secara proporsional dan objektif agar tidak berkembang menjadi konflik narasi yang kontraproduktif.
Sebagai alumni dan mantan ketua Umum Senat UIN Banten Tahun 2024, Sultan memandang bahwa penyematan istilah seperti “ilegal”, “teror”, maupun dugaan politisasi tanpa proses dialog yang sehat justru berpotensi memperuncing fragmentasi di tengah alumni.
“IKA bukan sekadar soal legitimasi administratif atau siapa yang lebih dahulu memperoleh SK. IKA adalah ruang silaturahmi, konsolidasi gagasan, dan kontribusi alumni untuk kampus. Karena itu, seluruh pihak perlu menahan diri dari narasi yang dapat memperkeruh suasana,” ujar Sultan.
Menurutnya, keberadaan musyawarah alumni juga tidak serta-merta dapat dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan kampus. Sebab dalam tradisi organisasi kemahasiswaan dan alumni, musyawarah merupakan instrumen demokratis untuk membangun partisipasi dan komunikasi bersama.
Di sisi lain, kampus juga perlu hadir sebagai penengah yang mampu menjaga keseimbangan serta merangkul seluruh elemen alumni tanpa menciptakan kesan adanya pengelompokan tertentu.
Sebagai pimpinan tertinggi universitas, rektor seharusnya dapat mengambil langkah yang lebih rekonsiliatif demi menjaga persatuan alumni dan stabilitas kelembagaan.“Yang dibutuhkan hari ini adalah saling membangun titik temu. Alumni UIN Banten memiliki potensi besar untuk membantu kampus dalam penguatan jaringan, intelektualitas, dan kontribusi sosial. Jangan sampai energi alumni habis hanya untuk konflik internal,” lanjut Sultan.
Polemik yang berkembang saat ini dinilai harus menjadi refleksi bersama bahwa organisasi alumni idealnya dibangun melalui prinsip keterbukaan, partisipasi, dan komunikasi yang sehat. Sebab apabila dinamika ini terus dipelihara dalam suasana saling menyerang, maka yang dirugikan bukan hanya alumni, tetapi juga citra institusi kampus di mata publik.
Karena itu, diperlukan langkah dialogis dan komunikasi bersama agar IKA UIN Banten benar-benar menjadi rumah besar alumni yang inklusif, produktif, dan mampu menghadirkan kontribusi nyata bagi kemajuan almamater.





