Ruang TokohSerang

Pertumbuhan Ekonomi, Indonesia Menghadapi Bahaya Stagflasi

Dua tahun terakhir, Ekonomi Global setidaknya telah mengalami dua kali goncangan, pandemi covid 19 dan geopolitik Rusia – Ukraina menjadi biang kelumpuhun, bahkan Sri Langka mengalami kebangkrutan. Terbukti International Monetary Fund sempat empat kali mengalami revisi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020.

Dilansir dari kompas.com (14/6/2022) Presiden Joko Widodo mengatakan sekitar 60 negara akan ambruk perekonomiannya karena ancaman krisis pangan dan situasi global yang tidak menentu, hal ini merupakan prediksi dari World Bank dan International Monetary Fund (IMF).

Situasi memanas dari geopolitik antara Rusia dan Ukraina dikira menjadi  titik sentral dari ancaman krisis energi, pangan, hingga Inflasi.

Kondisi Inflasi global yang saat ini terjadi sebetulnya tidak jauh berbeda dari 1970an yang terjadi pada Amerika Serikat. Inflasi Global terjadi ketika negara-negara maju mengalami masalah ekonomi seperti komoditas dan geopolitik, sehingga negara-negara berkembang yang bergantung ikut terpengaruh, kemudiaan terjadilah inflasi global, pada saat itu pula stagflasi akan mengancam beberapa negara.

Tidak mungkin stagflasipun tidak terjadi pada Indonesia. Pertumbuhan ekonomi indonesia saat ini sedang diancam oleh stagflasi, setelah terjadinya inflasi global.

Stagflasi terjadi ketika terjadi kenaikan pengangguran dan inflasi dibarengi dengan turunnya GDP/PDB dan Permintaan. Dilansir dari kompas. Com (14/6/2022) Di Indonesia kondisinya GDP atau PDB 2021 naik, pengangguran turun, inflasi meningkat stabil. Sementara itu permintaan mulai beranjak naik sejak 2021.

Jika dilihat dari beberapa indikator, Tahun 2022 mungkin tidak akan mengalami kesulitan yang berarti pada pertumbuhan ekonomi di indonesia, namun stagflasi bisa terjadi ketika keadaan politik internasional dan komoditas tidak kunjung membaik, pasalnya beberapa komoditas di indonesia masih bergantung pada negara-negara lain, seperti minyak pada rusia. Bukan hanya permasalahan pemenuhan komoditas di indonesia saja, kondisi ini akan berpengaruh terhadap ekspor Indonesia.

Indonesia harus berkaca terhadap negara-negara yang telah mengalami stagflasi dan kebangkrutan, seperti akhir-akhir ini terjadi pada Sri Langka.

Dilansir dari CNBC Indonesia, Sri Lanka sendiri saat ini sudah terjebak oleh krisis pangan dan energi akibat kurangnya cadangan devisa yang dimiliki negara itu. Bahkan, inflasi di Negeri Ceylon itu telah melonjak hingga 33%. Krisis devisa ini salah satunya disebabkan untuk membayar utang luar negeri. Diketahui, Sri Lanka paling banyak berutang kepada China dan India.

Selain itu, sumber pemasukan devisa Sri Lanka lainnya seperti dari sektor pariwisata juga menurun. Sektor pendapatan ini semakin terpukul karena pandemi Covid-19.

Kondisi ekonomi di Sri Langka bisa terjadi pula pada Indonesia, pasalnya kebutuhan komoditas seperti energi dan pangan masih bergantung pada negara lain. Faktor lain ialah ketidakmampuan negara untuk membayar utang.

Utang Indonesia pada tahun 2022 kuartal I, dari data kementerian keuangan cenderung meningkat. Pada dasarnya sebuah negara sangat wajar memiliki utang luar negeri, namun harus diingat bahwasanya itu perlu pengelolaan atau manajemen yang baik, jangan sampai ketika terjadi inflasi mengarah pada stagflasi kondisi utang Indonesia ikut tidak terkontrol.

Saat ini yang bisa dilakukan pemerintah, dalam upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi ialah mengupayakan stabilitas harga , ketersediaan komoditas dan menekan angka pengangguran.

Selain itu, Peningkatan ekonomi mikro juga harus diperhatikan, seperti UMKM.

Penulis : Firmansyah Marghana
Mahasiswa jurusan manajemen UNIBA

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!