KomunitasRuang TokohSerangTerkini

Banten Girang : Soal Bakat dan Gerak Tumbuh

Selepas nonton MU yang ditahan imbang oleh Chelsea (29/04). Sejail kemudian tiba-tiba jempol saya meng-klik video lain, membahas beberapa pemain MU yang “bermasalah” dengan Sir Alex Ferguson.

Padat kata, ada ungkapan Fergie yang memantik pikiran. Sialnya, sepanjang hari kalimat tersebut terus-terusan bermain petak-umpet sama beberapa hal yang dilakukan temen-temen di Banten, ditambah keriuhan bahasan pasca diskusi Muda Merdesa Dalam Bayang-bayang Chairil yang sengaja menyisir kemampuan anak-anak muda Banten dari segala bidang (27/04).

Sedikit mengulas bahasan diskusi tersebut, yang kemudian mengkerucut pada tilikan pertanyaan: jika kreativitas itu harus melulu diseremonialkan bahkan seolah wajib di organisasir dalam event-event besar dengan harapan event tersebut ceritanya ambyar ke mana-mana.

Bukankah akan ada banyak dorongan dan desakan dalam menyujudkannya? Bukankah ia akan melulu terbentur permasalahan klasik anggaran dan lebeling daerah yang selalu berhasrat mengimbangi arus utama kebudayaan kota-kota besar di Indonesia? Dan seandainya event terwujud, apakah event itu akan panjang usia? Lantas bagaimana nasib banyak karya? termasuk pengkarya__bisa bertahan dan berkelanjutan?

Diskusi kemudian menawar pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan pendalaman bahwa program besar-acara besar-seremonial bisa jadi penting dan perlu dilaksanakan barang setahun sekali atau dua kali dalam setahun, akan tetapi bagian yang tak kalah pentingnya adalah mengaktivasi ruang-ruang tumbuh: komunitas/perkumpulan/para pelaku, sambil merucingkan esensi dan bentuk dalam setiap karya.

Karena hal tersebut selalu menjadi PR yang membosankan, apalagi ditambah dengan kurangnya apresiasi dari khalayak banyak. Karakter ketidaksabaran dan desakan aktualisasi diri yang kadang kala abai dan lupa pada kualitas, menjadi momok lain dari kerja-keja aktivasi sebuah kelompok di derah.

Di akhir diskusi, aktivasi kelompok bisa dimulai dengan bentuk-bentuk kolaborasi dan tukar apresiator (silaturahmi karya) sehingga menghasilkan kumparan kekuatan yang bisa diaplikasin dalam event-event besar atau kalau mau menimang hal-hal yang berkaitan dengan isu sosial-politik-budaya, barangkali tiga tantangan penting tahun-tahun yang akan datang itu bisa jadi adalah: pertama, bursa pencalonan 5 tahunan pusat; dua, bursa pencalonan 5 tahunan daerah (khususnya Banten); tiga, bonus demografi yang perlu ditawar oleh platform kebudayaan sehingga meminimalisir bentuk-bentuk yang semodel Klitih Jogja dan atau begal jahanam tanpa rasa kasihan.

Bukankah gerakan di daerah selalu terbentur dengan persoalan kebijakan pemimpinnya, kiranya bahasan tersebut layak menjadi peluang bertukar tangkap secara sepadan dengan mereka.

Kembali pada kalimat Fergie yang seharian main petak umpet di dalam kepala saya, yaitu pada kalimat “bentuk bakat itu bisa jadi adalah usaha keras untuk berlatih”. Selain aktivasi kempok, rupanya kita perlu aktivasi diri dengan cara mengupgrade kempuan dan kepercayaan pada diri sendiri.

Bila selama ini kemampuannya masih sebatas cover karya orang demi “vibe” didengarkan serta mendapatkan keriuhan, mungkin hari ini kita perlu memulainya dengan mencipta karya sendiri. Begitu juga mengupgrade harapan sambil memupuk kepercayaan pada diri sendiri dengan cara-cara kolaborasi saling mengapresiasi.
Kira-kira begitu.

Penulis : Peri Sandi Huizche (Banten Girang)

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!