PendidikanTerkini

Opini: Penguasan Skill 4C: Peran Mahasiswa Sebagai Pelopor Moderasi Beragama

SABBA.ID | Serang, (11/12/21). Indonesia memiliki banyak warisan seni, budaya dan agama. Sudah menjadi hal lumrah bagi kita yang berpenduduk sebagai warga NKRI. Bangsa kita memilik keanekaragaman dalam sisi sosial maupun budaya.

Moderasi Beragama sering terjadi dikalangan masyarakat dan mahasiswa. Jangan buru-buru menilai moderasi beragam itu jalan tengah sesuai apa yang dipikirkan, sesuatu hal liberal dan tidak kaffah.


Moderasi berasal dari kata moderat yang berartikan tidak berlebihan atau tidak kekurangan. Dalam KBBI kata moderasi adalah pengurangan kekerasan atau penghindaran ke-ekstreman.

Ketika kita sandingkan dengan kata beragama, maka arti dari moderasi beragama adalah sikap mengurangi kekerasan atau menghindari keekstreman cara pandang sikap dan peraktik dalam beragama.

Moderasi beragama dianggap penting karena dengan majemuknya masyarakat Indonesia dan keragaman yang ada di tengah-tengah masyarakat, untuk dapat hidup dengan keharmonisan maka dibutuhkan sikap moderasi ini, agar keragaman yang ada dapat memunculkan rasa persatuan dan kesatuan dalam hidup bernegara.

Mahasiswa sebagai agent of change dan social of control. Sangat diperlukan peranannya di masyarakat untuk penyelarasan keharmonisan di tengah-tengah masyarakat. Namun dalam praktiknya, realitas sosial dalam konteks bermasyarakat masih cenderung pada kefanatikan. Hal ini menyebabkan kesenjangan sosial diantara paham-paham beragama.

Konteks keberagaman masyarakat Indonesia, diantaranya terdapat pada beberapa agama. Hal ini menjelaskan bahwa Indonesia sangatlah banyak perbedaan, tetapi tidak mengurangi rasa kebhinekaan terhadap masing-masing agama dan budaya. Pemahaman masing-masing agama terkait yang mereka percayai dalam konteks moderasi perlu dipandang secara ekslusif, agar tidak ada ekstrimisme dari segi tindakan maupun pemikiran.

Adapun sesuatu yang berlebihan baik dari tindakan maupun pemikiran itu disebut dengan ekstrimisme. Karena kata ekstrimitas cenderung dikaitkan dengan hal yang bertentangan dengan agama baik dalam kehidupan beragama maupun negara.

Maka dari itu kita perlu untuk saling toleransi dalam beragama agar tidak ada ekstrimitas. Perlu adanya pemahaman moderasi beragama terhadap perbedaan, persatuan, kesatuan, dalam hidup beragam.
Agar terjalinnya keharmonisan sesama agama maupun perbedaan agama, dan yang terpenting kita tetap satu tujuan atas dasar Bhineka Tunggal Ika.

Penulis : Ilham Maulana (Peserta DIKLATPIMNAS 2021)

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!