Terkini

Konflik Matraman Tidak Boleh Menjadi Alasan untuk Menyebarkan Rasisme terhadap Masyarakat Indonesia Timur

Bentrokan yang terjadi di kawasan Matraman dan Jalan Tambak, Jakarta Pusat, masih dalam proses penyelidikan oleh pihak kepolisian. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk menunggu hasil penyelidikan dan tidak menarik kesimpulan yang menggeneralisasi suatu kelompok.

Sayangnya, di tengah proses hukum tersebut, media sosial dipenuhi komentar bernada rasis. Sejumlah warganet melontarkan kata-kata yang menghina masyarakat Indonesia Timur, seperti menyebut mereka dengan istilah yang merendahkan; Orang Hutan masuk Kota, Monyet Timur Berulah, Ambon-ambon Kontol, bahkan menyerukan agar seluruh orang Timur diusir dari Pulau Jawa. Ujaran seperti ini tidak hanya melukai perasaan banyak orang, tetapi juga berpotensi memecah persatuan bangsa.

Perlu saya ingatkan bahwa tindakan seseorang tidak pernah dapat dijadikan alasan untuk menghakimi seluruh suku atau masyarakat dari daerah tertentu. Jika ada pelanggaran hukum, maka yang bertanggung jawab adalah pelakunya sebagai individu, bukan seluruh kelompok etnisnya.

Masyarakat Indonesia Timur selama puluhan tahun hidup berdampingan dengan warga dari berbagai daerah di Indonesia. Program transmigrasi yang telah berlangsung sejak lama membuat banyak masyarakat asal Pulau Jawa menetap, bekerja, bertani, berdagang, dan membangun kehidupan di berbagai wilayah Indonesia Timur, seperti Maluku, Papua, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Kehidupan bersama tersebut umumnya berlangsung dalam suasana damai, saling menghormati, dan saling membantu. Sebaliknya, masyarakat Indonesia Timur juga telah lama menjadi bagian dari kehidupan di Pulau Jawa, berkontribusi sebagai mahasiswa, tenaga kerja, aparat negara, pengusaha, akademisi, maupun tokoh masyarakat.

Lebih dari itu, hubungan antarmasyarakat telah berkembang menjadi hubungan kekeluargaan. Tidak sedikit keluarga yang terbentuk melalui perkawinan antarsuku dan antardaerah, seperti antara masyarakat Jawa dengan Maluku, Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan daerah lainnya. Anak-anak yang lahir dari keluarga tersebut adalah bagian dari Indonesia yang sama. Karena itu, ujaran rasis bukan hanya menyerang satu kelompok, tetapi juga menyakiti keluarga-keluarga yang memiliki latar belakang budaya yang beragam.

Rasisme tidak akan menyelesaikan persoalan apa pun. Yang dibutuhkan adalah penegakan hukum yang adil, penghormatan terhadap martabat setiap manusia, dan komitmen untuk menjaga persaudaraan sebagai sesama warga negara.

Advertisement Space

Mari kita serahkan penanganan konflik kepada aparat penegak hukum. Mari kita hormati proses hukum yang sedang berjalan. Siapa pun yang bersalah harus diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Namun, siapa pun yang tidak terlibat tidak boleh menjadi sasaran ujaran kebencian atau rasisme. Indonesia adalah rumah bersama bagi seluruh anak bangsa. Menjaga persatuan dan saling menghormati adalah tanggung jawab kita semua. Jangan biarkan emosi sesaat berubah menjadi kebencian terhadap seluruh suku atau masyarakat. Indonesia kuat karena keberagamannya. Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, tetapi komitmen untuk saling menghormati, hidup berdampingan, dan menjaga persaudaraan sebagai satu bangsa.

Penulis :

Rustam Mukadar, S.H., M.H.
Sekertaris Umum Ikatan Sosial Warga Maluku (ISOWAKU) Banten

Show More

Andika

Melihat, Berfikir dan Bergerak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!