Sambut Hari Sumpah Pemuda ke-98, Disparpora Kota Serang Siapkan Apel Kebangsaan dan Konsolidasi Pemuda Kampung

KOTA SERANG – Menyambut peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026, Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disparpora) Kota Serang bersiap menggelar apel kebangsaan dengan melibatkan berbagai elemen generasi muda. Tidak hanya mengundang organisasi kepemudaan (OKP) dan aktivis mahasiswa, kegiatan ini juga akan merangkul tokoh-tokoh pemuda dari kampung-kampung di seluruh wilayah Kota Serang.
Di bawah kepemimpinan Kepala Disparpora Kota Serang, Ahmad Nuri, agenda tersebut dirancang sebagai ruang konsolidasi pemuda untuk memperkuat persatuan, memperluas kolaborasi, dan menumbuhkan semangat kebangsaan tanpa sekat suku, agama, ras, budaya, maupun latar belakang organisasi.
Gagasan ini menempatkan Hari Sumpah Pemuda bukan sekadar sebagai peringatan seremonial, melainkan momentum untuk mempertemukan berbagai potensi generasi muda dalam satu gerakan bersama demi kemajuan Kota Serang.
Melalui semangat tersebut, Ahmad Nuri membawa pesan yang sejalan dengan slogan yang dikenal melekat pada dirinya, yaitu “Tidak Siap untuk Diam.” Slogan ini menjadi dorongan agar pemuda tidak berhenti pada wacana, tetapi berani menyampaikan gagasan, mengambil inisiatif, membangun kolaborasi, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Ahmad Nuri, menyampaikan bahwa peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 harus dimaknai sebagai momentum strategis untuk memperkuat peran generasi muda dalam pembangunan daerah, memperluas partisipasi sosial, serta mengembangkan ekosistem kepemudaan yang inklusif, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Karena itu, pelibatan tokoh pemuda dari kampung-kampung menjadi bagian penting dari rencana kegiatan ini. Pemuda yang tumbuh dan beraktivitas di lingkungan masyarakat perlu memperoleh ruang untuk menyampaikan aspirasi, mengembangkan potensi, serta membangun jejaring dengan organisasi kepemudaan lainnya.
Semangat “Tidak Siap untuk Diam” mengandung pesan bahwa generasi muda harus mengambil peran aktif dalam menjawab persoalan sosial, menjaga kerukunan, mengembangkan kreativitas, dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah.
Pemuda tidak cukup hanya hadir dalam kegiatan seremonial. Mereka perlu bergerak, berinovasi, dan membangun kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam konteks inilah, apel Hari Sumpah Pemuda ke-98 diharapkan menjadi titik temu berbagai kekuatan pemuda Kota SeKota Serang, sekaligus membuka ruang komunikasi antara pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, komunitas, dan tokoh-tokoh pemuda di tingkat akar rumput.
“Dalam perspektif pembangunan sumber daya manusia, pemuda bukan sekadar kelompok demografis, melainkan aktor strategis yang memiliki kapasitas untuk mendorong inovasi, memperkuat kohesi sosial, dan menciptakan perubahan positif di tengah masyarakat. Oleh karena itu, peringatan Hari Sumpah Pemuda harus melampaui kegiatan seremonial dan diarahkan pada penguatan kapasitas, partisipasi, serta kepemimpinan generasi muda,” ujar Ahmad Nuri dalam rilisnya.
Tidak hanya mengundang organisasi kepemudaan (OKP) dan para aktivis pemuda, Disparpora Kota Serang juga berencana menghadirkan tokoh-tokoh pemuda dari berbagai kampung di wilayah Kota Serang. Pelibatan pemuda berbasis kampung ini menjadi langkah strategis untuk memperluas ruang partisipasi, sehingga semangat Sumpah Pemuda tidak hanya dirasakan oleh kalangan organisasi formal, tetapi juga tumbuh di lingkungan masyarakat.
Keterlibatan tokoh pemuda dari tingkat kampung diharapkan dapat memperkuat komunikasi antara pemerintah daerah dan generasi muda. Pemuda memiliki posisi penting dalam pembangunan kota, baik melalui kegiatan sosial, pengembangan ekonomi kreatif, pelestarian budaya lokal, penguatan literasi digital, maupun upaya menjaga kerukunan di tengah masyarakat.
Selain apel peringatan, kegiatan tersebut juga direncanakan menjadi momentum ruang yang diharapkan dapat menjadi tempat berkumpul, berdialog, bertukar gagasan, dan membangun kerja sama lintas komunitas. Peringatan Hari Sumpah ini membawa semangat kesederhanaan, keterbukaan, dan persaudaraan, sekaligus memperkuat nilai-nilai toleransi yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Menurutnya, rencana pelaksanaan apel Hari Sumpah Pemuda dengan melibatkan organisasi kepemudaan (OKP), aktivis, dan tokoh pemuda dari berbagai kampung di Kota Serang merupakan langkah untuk memperluas representasi pemuda dalam ruang publik. Pendekatan ini penting agar pembangunan kepemudaan tidak hanya berorientasi pada kelompok yang telah terorganisasi secara formal, tetapi juga menjangkau komunitas pemuda di tingkat akar rumput.
“Pembangunan kepemudaan harus menggunakan pendekatan partisipatif. Pemerintah daerah perlu membuka ruang dialog yang memungkinkan pemuda dari berbagai latar belakang untuk menyampaikan aspirasi, mengidentifikasi persoalan di lingkungannya, dan terlibat dalam perumusan solusi. Dengan demikian, kebijakan kepemudaan dapat berkembang berdasarkan kebutuhan riil masyarakat, bukan semata-mata berdasarkan asumsi kelembagaan,” jelasnya.
Ahmad Nuri juga menekankan pentingnya modal sosial dalam membangun masyarakat yang harmonis. Kepercayaan, jejaring sosial, solidaritas, dan kerja sama antarkelompok merupakan unsur penting untuk memperkuat ketahanan masyarakat. Dalam konteks Kota Serang yang memiliki keberagaman sosial dan budaya, pemuda perlu mengambil peran sebagai penghubung antarkomunitas sekaligus penggerak dialog yang konstruktif.
Tokoh pemuda Provinsi Banten, Odih Hasan, menyambut positif rencana penyelenggaraan apel Hari Sumpah Pemuda ke-98 yang digagas Disparpora Kota Serang di bawah kepemimpinan Ahmad Nuri.
Menurut Odih, gagasan untuk melibatkan aktivis kepemudaan, OKP, serta tokoh pemuda dari kampung-kampung merupakan langkah strategis yang memiliki nilai sosial dan kebangsaan. Pendekatan tersebut dapat memperluas ruang perjumpaan antarpemuda sekaligus memperkuat hubungan antara organisasi formal dan komunitas yang tumbuh di tengah masyarakat.
“Saya menilai gagasan Pak Kadis Ahmad Nuri sangat brilian. Beliau tidak hanya melihat Hari Sumpah Pemuda sebagai agenda seremonial, tetapi juga sebagai momentum untuk menyatukan kembali energi, gagasan, dan gerakan pemuda Kota Serang. Mengundang aktivis kepemudaan dan tokoh pemuda dari kampung-kampung merupakan langkah penting agar semangat persatuan benar-benar tumbuh dari masyarakat,” ujar Odih Hasan.
Ia menambahkan, esensi Sumpah Pemuda terletak pada kemampuan generasi muda untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas perbedaan kelompok. Dalam konteks kehidupan masyarakat Kota Serang yang beragam, pemuda harus menjadi pelopor dialog, toleransi, gotong royong, dan kerja sama lintas identitas.
“Pemuda tidak boleh terjebak dalam sekat organisasi, perbedaan agama, suku, ras, dan budaya. Kita boleh berbeda identitas, berbeda komunitas, bahkan berbeda pandangan, tetapi kita tetap memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga persatuan dan membangun Kota Serang. Inilah semangat Sumpah Pemuda yang harus kita aktualisasikan,” tegasnya.
Odih juga menilai bahwa pelibatan tokoh pemuda di tingkat kampung dapat menjadi pintu masuk untuk mengidentifikasi potensi generasi muda secara lebih luas. Banyak pemuda yang memiliki kapasitas dalam bidang sosial, keagamaan, olahraga, seni, budaya, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan masyarakat, tetapi belum seluruhnya terhubung dengan program pembangunan kepemudaan pemerintah daerah.
Karena itu, ia berharap agenda tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan apel, melainkan berkembang menjadi gerakan kolaboratif yang berkelanjutan.
“Harapan saya, momentum ini menjadi titik awal konsolidasi pemuda Kota Serang. Setelah apel, harus ada ruang komunikasi, kolaborasi program, dan kegiatan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat. Pemerintah daerah perlu hadir sebagai fasilitator yang membuka kesempatan bagi seluruh pemuda untuk berpartisipasi karena Kehadiran tokoh pemuda dari kampung-kampung juga penting karena kekuatan gerakan pemuda tidak hanya berada di organisasi formal, tetapi tumbuh di tengah kehidupan masyarakat,” ujar Odih Hasan dalam pernyataannya.
Menurut Odih, rencana konsolidasi pemuda kampung ini memiliki nilai strategis apabila dikembangkan sebagai ruang perjumpaan sosial yang terbuka bagi seluruh elemen pemuda. Momentum sumpah pemuda menjadi ruang yang dapat mendorong dialog lintas agama, penguatan toleransi, pengembangan gagasan kreatif, serta kerja sama dalam menjawab berbagai persoalan sosial di masyarakat.
“Hari Sumpah Pemuda memiliki pesan yang sangat relevan dengan kehidupan kebangsaan kita. Kita membutuhkan ruang yang mampu mempertemukan pemuda tanpa sekat identitas. Perbedaan agama, suku, ras, budaya, maupun organisasi tidak boleh menjadi penghalang untuk membangun persaudaraan. Justru melalui perbedaan itulah kita dapat belajar saling menghormati, memperluas perspektif, dan membangun kerja sama yang produktif,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa gagasan penyatuan pemuda tersebut sejalan dengan prinsip pembangunan kepemudaan yang menempatkan generasi muda sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek kegiatan pemerintah. Dalam perspektif administrasi publik dan pembangunan sosial, partisipasi pemuda yang bermakna dapat memperkuat modal sosial, meningkatkan kepercayaan antarkelompok, serta membuka peluang kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.
“Agenda ini akan semakin bermakna apabila ditindaklanjuti dengan program yang berkelanjutan. Momentum sumpah Pemuda dapat dikembangkan menjadi ruang diskusi kebangsaan, pelatihan kepemimpinan, pengembangan ekonomi kreatif, pelestarian budaya lokal, pendidikan demokrasi, dan kegiatan sosial lintas komunitas. Dengan begitu, manfaatnya tidak hanya dirasakan pada saat peresmian, tetapi juga tumbuh menjadi gerakan bersama yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkap Odih.
Sebaliknya, keberagaman perlu dikelola sebagai kekuatan sosial yang mampu melahirkan gagasan, kreativitas, dan gerakan bersama untuk kepentingan masyarakat.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 juga menjadi pengingat bahwa perjuangan generasi muda pada 28 Oktober 1928 telah meletakkan fondasi penting bagi persatuan bangsa.
Semangat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia tetap relevan untuk menjawab tantangan generasi muda saat ini, termasuk polarisasi sosial, penyebaran informasi yang tidak akurat, intoleransi, keterbatasan kesempatan kerja, serta kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi di era digital.
Melalui kegiatan ini, Disparpora Kota Serang diharapkan dapat memperkuat peran pemerintah daerah sebagai fasilitator tumbuhnya kepemimpinan pemuda yang terbuka, partisipatif, dan berorientasi pada kepentingan publik. Sinergi antara pemerintah, OKP, aktivis kepemudaan, tokoh pemuda kampung, komunitas lintas agama, serta berbagai elemen masyarakat menjadi modal penting untuk membangun ekosistem kepemudaan yang sehat.





