KomunitasNasionalPendidikan

PMII Gelar Diskusi, Soroti Krisis Energi dan Masa Depan Indonesia

Jakarta — Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar diskusi publik bertajuk “Renewable Energy dan Blue-Green Economy” di Aula Bung Hatta, Universitas Negeri Jakarta, Rabu (15/4/2026). Forum ini bertujuan mendorong penguatan peran mahasiswa dalam merespons isu energi dan lingkungan.

Diskusi ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi perguruan tinggi, institusi pertahanan, hingga organisasi masyarakat.

M. Syahrus Sobirin, selaku penanggung jawab kegiatan, menyatakan bahwa agenda ini diikuti oleh 220 peserta yang merupakan diaspora PMII dari berbagai kampus di Indonesia. Diskusi ini diharapkan dapat memperkuat konstruksi berpikir kader yang progresif dan kontekstual.

“Hari ini kita berbicara tentang masa depan Indonesia yang sedang ditentukan. Di tengah itu, dunia menghadapi tantangan serius berupa perubahan iklim, krisis energi, serta kerusakan ekosistem,” tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, Rektor UNJ, Prof. Dr. Kamarudin, M.Si, menekankan pentingnya gerakan mahasiswa untuk tetap relevan dengan tantangan zaman. Sebagai alumni PMII sekaligus Mabinas PB PMII, ia mengingatkan tiga peran utama aktivis: moral, intelektual, dan sosial.

“Jika kita berbicara tentang pergerakan, maka ia harus selalu hidup dan dinamis. Ada tiga peran utama gerakan aktivis mahasiswa, yaitu moral, intelektual, dan sosial, agar tetap berada pada jalur Pancasila dan konstitusi,” tegas Prof. Kamarudin.

Advertisement Space

Ia menekankan, mahasiswa tidak cukup hanya berproses di ruang kelas, melainkan juga harus hadir dalam menjawab persoalan strategis bangsa, termasuk isu energi.

“Mahasiswa tidak boleh hanya belajar di dalam kelas. Mereka harus mampu berkontribusi nyata bagi negara. Salah satu isu strategis saat ini adalah energi, terutama di tengah situasi global yang dipicu oleh konflik,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan, seperti kelapa sawit, singkong, tebu, hingga energi angin dan ombak. “Tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan baik,” imbuhnya.

Disisi lain, Ketua Umum PB PMII, M. Shofiyulloh Cokro, dalam kesempatan tersebut juga turut memberikan penegasan terhadap posisi PMII dalam mendorong kader untuk terlibat dalam berbagai sektor strategis.

“PMII sejak dilahirkan merupakan bagian dari agen negara. Karena itu, kami terus menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Universitas Pertahanan. Rangkaian harlah ini sekaligus mempertegas posisi dan peran organisasi,” ujarnya.

Menurutnya, terdapat tiga fokus utama PMII ke depan, yaitu mendorong kader menempuh pendidikan setinggi-tingginya, mengawal isu kebijakan strategis, serta mendorong kader terlibat sebagai pelaku di berbagai sektor.

“Fokus PMII ke depan ada tiga. Pertama, mendorong kader untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Kedua, mengawal isu-isu kebijakan strategis. Ketiga, mendorong kader PMII menjadi pelaku di berbagai sektor, baik sebagai pelaku UMKM maupun sebagai pemangku kebijakan,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III Universitas Pertahanan RI, Mayjen TNI Dr. Totok Imam Santoso, menyoroti posisi energi dalam lanskap global sekaligus kaitannya dengan ketahanan nasional.

“Energi saat ini bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi telah menjadi instrumen kekuatan geopolitik modern. Penguasaan dan kontrol terhadap energi sangat menentukan posisi tawar serta kekuatan suatu negara dalam percaturan global,” ujarnya.

Ia menegaskan pentingnya percepatan transisi energi sebagai strategi nasional.

“Karena itu, transisi menuju energi terbarukan menjadi keniscayaan dalam dinamika global. Pergeseran dari energi fosil ke energi terbarukan merupakan strategi utama untuk menjaga kemandirian dan stabilitas nasional,” pungkasnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa energi memiliki peran vital dalam sistem pertahanan negara.

“Lebih jauh, energi juga memiliki peran krusial dalam sistem pertahanan negara, terutama dalam mendukung kesiapan operasional, mobilitas, serta keberlanjutan logistik pertahanan,” tambahnya.

Dari perspektif lingkungan, Ketua Umum IRDI, Laksamana Madya TNI (Purn) Dr. Desi Albert Mamahit, menekankan pentingnya kesadaran ekologis sebagai bagian dari tanggung jawab moral.

“Ekojihad adalah semangat yang harus dimiliki oleh kita sebagai bangsa Indonesia. Eko di sini berkaitan dengan ekologi, yaitu lingkungan hidup kita. Karena itu, semangat jihad dalam menjaga lingkungan harus benar-benar tertanam dalam benak dan pikiran kita,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

“Ini adalah panggilan suci bagi kita semua untuk menjaga dunia ini dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.

Diskusi ini menunjukkan bahwa isu energi, lingkungan, dan peran generasi muda tidak dapat dipisahkan dalam membangun masa depan Indonesia. Di tengah tantangan global yang kian kompleks, penguatan kapasitas kader dan kesadaran kolektif menjadi kunci agar Indonesia mampu beradaptasi sekaligus berkontribusi dalam agenda pembangunan berkelanjutan di tingkat global.

Show More

Andika

Melihat, Berfikir dan Bergerak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!