Ruang TokohSerangTerkini

FYP (For Your Pancasila): Menilik Tren Pengamalan Nilai Bangsa oleh Gen Z

Generasi Z (kelahiran 1997–2012) kini mendominasi struktur demografi Indonesia. Sebagai digital natives, ruang interaksi mereka telah berpindah dari fisik ke ranah siber, seperti halaman For Your Page (FYP) TikTok dan Instagram. Akibatnya, internalisasi Pancasila lewat metode doktrinal konvensional sudah tidak lagi relevan

Pancasila di era modern sedang mengalami digitalisasi nilai, di mana gerakan sosial, donasi digital, dan kesadaran inklusivitas menjadi panggung baru pengamalan ideologi negara.

Dominasi Demografi: Data BPS menunjukkan Gen Z mencakup hampir 25% dari total populasi Indonesia, menjadikannya kelompok pemegang kendali narasi kebangsaan masa depan.

Konsumsi Digital: Riset terkini menempatkan platform video pendek (seperti TikTok) sebagai media utama Gen Z dalam menyerap informasi dan membentuk opini publik.

Karakteristik Pemilih: Survei politik menunjukkan Gen Z cenderung menjadi issue voters yang fokus pada keadilan sosial, hukum, dan lingkungan—selaras dengan esensi Sila ke-2, ke-3, dan ke-5.

Pancasila di tangan Gen Z tidak luntur, melainkan berganti rupa. Pandangan bahwa Gen Z mengalami degradasi moralitas nasional adalah keliru. Mereka memiliki empati sosial yang tinggi, namun mengekspresikannya secara organik melalui crowdfunding, aksi solidaritas siber, dan pengawalan isu keadilan di media sosial.

Advertisement Space

Tantangan utamanya bukan penolakan terhadap Pancasila, melainkan kerentanan mereka terhadap algoritma media sosial yang dapat menjebak mereka dalam filter bubble, hoaks, dan polarisasi digital jika tidak dibentengi literasi yang kuat.

Revitalisasi Edukasi: Mengubah Pendidikan Kewarganegaraan dari sistem hafalan teoritis menjadi pembelajaran berbasis proyek kreatif digital (video, podcast, infografis).

    Kolaborasi Konten (Soft-Selling): Pemerintah dan lembaga terkait harus menggandeng content creator untuk menyisipkan nilai toleransi dan gotong royong secara kasual ke dalam budaya pop anak muda.

    Penguatan Literasi Digital: Menjadikan Pancasila sebagai kompas etika berinternet (digital civic virtue) guna menangkal hoaks, cyberbullying, dan radikalisme di ruang siber.

    Penulis : Ahmad Dinejad – Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Panulang

    Show More

    Redaksi

    Teruntuk pembaca setia Sabba “Semua harus ditulis, apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna” (Pramoedya Ananta Toer)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Back to top button

    Wett

    Matiin Adblock Bro!