Pancasila di Tangan Gen Z: Ujian Identitas di Tengah Arus Digital dan Globalisasi

Pancasila sejak awal dirumuskan bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Dalam konteks sejarah, Pancasila menjadi titik temu berbagai perbedaan yang ada di Indonesia, sekaligus fondasi dalam menjaga keutuhan bangsa.
Namun, memasuki era modern yang ditandai dengan digitalisasi dan globalisasi, eksistensi Pancasila mengalami dinamika yang cukup kompleks. Generasi Z (Gen Z), yang lahir di tengah kemajuan teknologi informasi, memiliki karakteristik yang berbeda—lebih kritis, terbuka, dan cepat beradaptasi.
Di satu sisi, hal ini menjadi potensi besar untuk mengembangkan nilai-nilai Pancasila secara lebih kreatif. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi global juga membawa tantangan serius berupa pergeseran nilai, krisis identitas, dan melemahnya internalisasi ideologi bangsa.
Perubahan cara berinteraksi dari ruang fisik ke ruang digital turut memengaruhi cara Gen Z memahami Pancasila. Jika sebelumnya nilai-nilai seperti gotong royong dan musyawarah banyak dipraktikkan dalam kehidupan nyata, kini interaksi lebih sering terjadi di media sosial yang cenderung individualistik dan instan.
Akibatnya, Pancasila berpotensi mengalami reduksi makna jika tidak diadaptasi dengan pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Realitas di lapangan menunjukkan adanya beberapa persoalan krusial terkait dinamika Pancasila di kalangan Gen Z.
Pertama, rendahnya literasi digital menyebabkan banyak generasi muda mudah terpapar hoaks, ujaran kebencian, serta paham radikal yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan persatuan.
Data dari berbagai survei menunjukkan bahwa penyebaran informasi palsu di kalangan anak muda masih cukup tinggi, terutama melalui platform media sosial.
Kedua, meningkatnya individualisme menjadi tantangan nyata. Gaya hidup modern yang serba cepat dan berbasis teknologi mendorong orientasi pada pencapaian pribadi, sehingga nilai kolektivitas seperti gotong royong mulai terpinggirkan. Hal ini terlihat dari menurunnya partisipasi sosial di lingkungan masyarakat, terutama di kalangan remaja perkotaan.
Ketiga, adanya krisis keteladanan dari sebagian elit publik dan tokoh masyarakat turut memengaruhi persepsi Gen Z terhadap Pancasila. Ketika praktik kehidupan berbangsa tidak mencerminkan nilai keadilan dan kejujuran, maka generasi muda cenderung bersikap skeptis dan apatis terhadap ideologi negara.
Keempat, pendekatan pendidikan Pancasila yang masih cenderung teoritis dan normatif membuat banyak siswa hanya memahami Pancasila sebatas hafalan, bukan sebagai nilai yang hidup dalam keseharian. Hal ini menyebabkan terjadinya kesenjangan antara pengetahuan dan praktik nyata.
Menurut saya, dinamika ini tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman semata, melainkan sebagai peluang untuk merevitalisasi Pancasila agar tetap relevan bagi Gen Z. Pertama, diperlukan transformasi dalam metode pendidikan Pancasila. Pembelajaran harus lebih kontekstual, interaktif, dan berbasis teknologi, misalnya melalui konten digital, diskusi kritis, studi kasus, hingga kampanye kreatif di media sosial.
Kedua, penguatan literasi digital menjadi kunci utama. Gen Z perlu dibekali kemampuan berpikir kritis agar mampu memilah informasi, melawan hoaks, serta menjaga etika dalam berkomunikasi di ruang digital. Dengan demikian, nilai-nilai Pancasila seperti kejujuran, toleransi, dan tanggung jawab dapat tetap terjaga dalam dunia maya.
Ketiga, penting untuk menghadirkan keteladanan nyata dari para pemimpin dan tokoh publik. Pancasila akan lebih mudah diterima jika dicontohkan secara konkret dalam tindakan, bukan hanya disampaikan dalam retorika. Integritas dan konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai Pancasila akan memperkuat kepercayaan generasi muda.
Keempat, Gen Z harus didorong untuk menjadi subjek, bukan objek, dalam pengamalan Pancasila. Mereka perlu diberi ruang untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial, gerakan komunitas, hingga inovasi berbasis nilai kebangsaan. Misalnya, melalui gerakan digital yang mempromosikan toleransi, keberagaman, dan kepedulian sosial.
Terakhir, kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat menjadi sangat penting. Lingkungan yang kondusif akan membantu proses internalisasi nilai Pancasila secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, masa depan Pancasila sangat bergantung pada bagaimana Gen Z memaknai dan mengimplementasikannya. Jika mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensinya, maka Pancasila tidak hanya akan tetap eksis, tetapi juga menjadi kekuatan utama dalam menghadapi tantangan global.
Penulis: Desta Aulia Sari – Mahasiswa Fakultas Hukum Unpam





