Pancasila ditangan Gen Z: Bukan Barang Antik Tapi Filter Digital

Dinamika Pancasila di era modern bagi Gen Z menunjukkan relevansi yang kuat, namun diwarnai oleh tantangan digital seperti degradasi moralitas, penyebaran hoaks, dan krisis identitas akibat budaya asing. Diperlukan pendekatan kreatif berbasis digital dan keteladanan agar Pancasila tetap hidup sebagai kompas moral kaum muda.
Generasi Z lahir dan tumbuh sebagai digital natives yang sangat terhubung dengan internet dan media sosial. Pancasila, sebagai ideologi dasar, menghadapi ujian baru di mana nilai-nilai tradisional harus bersaing dengan arus globalisasi dan budaya transnasional tanpa batas. Bagi Gen Z, Pancasila tidak lagi efektif jika hanya dihafalkan, melainkan harus ditafsirkan ulang agar relevan dan aplikatif dalam konteks kehidupan modern dan ruang digital.
Derasnya arus informasi membawa tantangan konkret dalam pengamalan Pancasila bagi Gen Z, Polarisasi dan Intoleransi Digital, Ruang media sosial rentan memicu perpecahan, ujaran kebencian, dan polarisasi akibat minimnya literasi digital dan maraknya informasi yang tidak tersaring.Krisis Identitas Nasional.
Survei mengenai pandangan pemuda menunjukkan bahwa sebagian besar Generasi Z (bahkan mencapai angka di atas (50\%) sempat merasa nilai-nilai Pancasila mulai ditinggalkan dan tergerus oleh budaya asing yang masuk melalui hiburan atau tren global.
Berdasarkan diskusi di kalangan mahasiswa dan survei publik, masalah utama dalam penerapan Pancasila tidak selalu berasal dari luar, melainkan adanya persepsi tentang kurangnya keteladanan dari para tokoh atau elit yang melanggar norma-norma keadilan dan integritas.
Untuk menginternalisasi nilai-nilai Pancasila di era modern, diperlukan langkah-langkah yang lebih kontekstual dan dekat dengan keseharian Gen Z. Kampanye Positif di Media Sosial, Gen Z harus didorong untuk memposisikan diri sebagai digital creator yang menyebarkan konten positif, toleransi, dan nilai kemanusiaan menggunakan tagar seperti #PancasilaGenZ.
Kurikulum pendidikan Pancasila harus direformasi, mengganti metode hapalan dengan diskusi kritis, studi kasus sosial, dan simulasi pemecahan masalah. Reinterpretasi Gotong Royong: Gotong royong di era digital tidak hanya terbatas pada kerja bakti fisik, tetapi juga kolaborasi sosial untuk galang dana daring, mengadvokasi isu lingkungan, dan membantu sesama.
Menurut saya, Pancasila bagi Gen Z bukanlah barang antik yang kaku. Selama pendekatan penyampaiannya dilakukan secara dua arah (dialogis) melalui platform yang mereka sukai, Pancasila terbukti sangat ampuh menjadi filter utama. Kuncinya ada pada kreativitas pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan untuk membungkus nilai-nilai luhur menjadi relevan dengan gaya hidup modern.
Penulis: Refina Nafisa – Mahasiswa Hukum Universitas Pamulang





