Ruang TokohSerangTerkini

Dinamika Perkembangan Pancasila Di Era Modern Oleh Gen Z


Pancasila sebenarnya dibuat oleh para pendiri bangsa kita sebagai fondasi kuat untuk menyatukan beragam perbedaan di Indonesia. Harapannya, nilai-nilai luhur di dalam Pancasila bisa menjadi kompas atau penunjuk arah bagi kita semua dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Namun, tantangan besar muncul ketika kita memasuki era modern yang didominasi oleh Generasi Z—mereka yang lahir dan tumbuh besar di tengah maraknya internet dan media sosial. Di belakang mereka, bahkan sudah bersiap Generasi
Alpha yang sejak bayi sudah akrab dengan gadget.

Anak muda atau generasi Z, atau yang sering disebut sebagai warga digital asli (digital natives), punya karakter yang sangat unik. Karena terbiasa mencari informasi dengan cepat, mereka tumbuh menjadi generasi yang kreatif, pintar teknologi, berpikiran terbuka, dan sangat menghargai perbedaan budaya. Tapi di sisi lain, karena hidupnya hampir selalu terhubung dengan internet, mereka juga sangat rentan.

Berbagai informasi dari luar begitu mudah masuk tanpa saringan, mulai dari gaya hidup individualis, berita bohong, ujaran kebencian, hingga paham-paham baru yang bisa perlahan-lahan mengikis rasa cinta mereka pada tanah air. Masalahnya, cara kita mengenalkan Pancasila kepada mereka sempat mengalami kekosongan arah. Di masa lalu, penanaman Pancasila dilakukan secara kaku dan dipaksakan oleh pemerintah.

Begitu sistem lama tersebut bubar, kita seolah kebingungan mencari cara baru yang pas untuk anak muda. Akibatnya, ada jarak yang cukup jauh antara nilai-nilai kebangsaan dengan pola pikir anak muda sekarang. Anak muda zaman sekarang paling tidak suka diceramahi atau diajari dengan cara satu arah. Jika cara mengenalkan Pancasila masih kuno, nilai-nilai tersebut akan dianggap membosankan dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka.

Untuk melihat bagaimana anak muda memandang Pancasila saat ini, beberapa lembaga riset nasional pernah melakukan jajak pendapat. Dari berbagai hasil riset tersebut, kita bisa melihat adanya tanda-tanda kekhawatiran yang cukup nyata mengenai bagaimana para pelajar kita memahami dasar negara mereka.

Advertisement Space

Beberapa tahun lalu, sebuah lembaga riset kebijakan publik menemukan bahwa sebagian kecil anak muda sebenarnya sudah mulai setuju dengan gagasan untuk mengganti Pancasila dengan ideologi lain. Jajak pendapat tersebut juga mengungkap adanya kecenderungan sikap tertutup di kalangan milenial, terutama ketika ditanya mengenai kesediaan mereka untuk menerima pemimpin yang berbeda keyakinan.

Kondisi ini tampaknya tidak banyak membaik pada tahun-tahun berikutnya. Sebuah riset dari komunitas kepemudaan menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar anak muda masih percaya Pancasila itu penting, ada kelompok lain dalam jumlah yang cukup signifikan yang merasa ragu atau bersikap acuh tak acuh tentang apakah nilai-nilai Pancasila masih ada gunanya bagi kehidupan modern mereka saat ini.

Tantangan yang lebih mengkhawatirkan terlihat dari laporan riset terbaru yang menyasar para pelajar di tingkat sekolah menengah atas di beberapa kota besar. Jajak pendapat tersebut menemukan fakta bahwa mayoritas sangat besar dari pelajar yang diwawancarai menganggap Pancasila bukanlah sesuatu yang abadi dan merasa bahwa dasar negara ini bisa saja diganti di masa depan. Sikap tidak toleran yang aktif juga menunjukkan kecenderungan meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Memang, para pelajar ini tampak sangat terbuka menerima perbedaan latar belakang seperti suku atau jender. Namun, ketika dihadapkan pada isu sensitif seperti penghinaan terhadap keyakinan mereka, sebagian dari mereka mengaku sulit menahan diri dan merasa tidak ragu untuk melakukan tindakan kekerasan demi membela keyakinannya.

Mengapa pemahaman mereka menjadi serapuh ini. Laporan dari kementerian terkait memberikan jawaban yang cukup masuk akal, hanya sebagian kecil siswa yang benar-benar memahami nilai-nilai Pancasila dari penjelasan guru di dalam ruang kelas. Porsi yang jauh lebih besar justru mendapatkan pengaruh nilai-nilai kehidupan dan pandangan dunia dari apa yang mereka lihat dan baca setiap hari di media sosial mereka, yang sayangnya sering kali tanpa pengawasan atau penyaringan yang baik.

Ada hal menarik sekaligus membingungkan dari sikap anak muda sekarang. Di satu sisi, mereka sangat ramah dan terbuka dalam berteman dengan orang yang beda suku, beda agama, bahkan mendukung kepemimpinan perempuan di sekolah. Namun, toleransi yang terlihat indah ini bisa langsung runtuh ketika disinggung masalah keyakinan yang lebih dalam. Banyak pelajar yang merasa lebih nyaman jika aturan-aturan keagamaan tertentu dipaksakan di sekolah, dan mereka memandang kebudayaan luar sebagai ancaman bagi budaya lokal. Sikap defensif atau bertahan yang berlebihan ini membuat mereka mudah tersulut emosinya ketika ada provokasi di internet, sehingga toleransi yang tadinya damai bisa berubah menjadi tindakan yang tidak bersahabat.

Bagi Gen Z, dunia maya sering kali terasa lebih nyata dibanding dunia sekitar mereka. Akibatnya, cara pandang dan moral mereka dibentuk oleh algoritma media sosial. Sayangnya, media sosial sering kali menampilkan konten yang memicu pertengkaran,
mementingkan diri sendiri, dan pamer kemewahan demi mendapatkan penonton.

Nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan peduli sesama pun perlahan tersisih. Anak mudaakhirnya lebih peduli pada diri mereka sendiri atau kelompok kecilnya di internet, dan menjadi acuh tak acuh pada nasib bangsa atau orang-orang di luar lingkaran mereka.

Sistem pendidikan kita di sekolah juga punya andil dalam masalah ini. Pelajaran Pancasila sering kali hanya diajarkan sebagai hafalan teori untuk ujian, bukan sebagai panduan hidup nyata. Murid-murid mungkin hafal isi kelima sila, tetapi mereka bingung bagaimana cara menerapkannya saat menghadapi masalah sehari-hari. Selain itu, suasana kelas yang kaku membuat murid takut untuk berdiskusi atau mengutarakan pendapat.

Ditambah lagi, pengawasan sekolah yang longgar terkadang membuat pihak-pihak luaryang membawa paham ekstrem bisa masuk dan memengaruhi anak-anak lewat kegiatan di luar jam sekolah. Gen Z sebenarnya adalah generasi yang sangat kritis dan rasional. Mereka tidak akan percaya begitu saja pada slogan-slogan indah tentang Pancasila jika di dunia nyata mereka masih melihat kemiskinan, susahnya mencari kerja, dan ketidakadilan hukum.

Mereka ingin melihat Pancasila bekerja nyata, membantu yang miskin, membagi kesempatan secara adil, dan melindungi semua orang. Tapi di balik sikap kritis itu, sebenarnya anak muda kita rindu akan pegangan hidup yang kuat. Banyak dari mereka yang justru berharap pelajaran moral Pancasila dikembalikan lagi di sekolah, asalkan cara penyampaiannya tidak kaku dan lebih terhubung dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Bagi penulis Langkah pertama adalah mengubah total cara belajar Pancasila di sekolah. Singkirkan metode hafalan yang membosankan, dan ganti dengan praktik langsung. Pancasila bisa dihubungkan dengan isu-isu keren yang disukai anak muda sekarang, seperti kampanye menjaga kesehatan mental, gerakan anti-perundungan (anti-bullying), atau aksi peduli lingkungan dan perubahan iklim. Membantu korban bencana lewat donasi digital atau menanam pohon bersama adalah contoh nyata mengamalkan sila kemanusiaan dan keadilan sosial. Keinginan anak muda agar pendidikan moral diajarkan lagi harus dijawab dengan membuat kurikulum yang asyik, yang melatih mereka berpikir kritis dan berempati.

Langkah kedua yaitu Pemerintah dan lembaga terkait harus mau turun ke dunia digital tempat anak muda berkumpul. Alih-alih membuat acara seremonial yang kaku, negara harus mau mendengar apa yang diinginkan anak muda. Kita perlu bekerja sama dengan para pembuat konten (content creator), pembuat animasi, dan pembuat gim untuk menyebarkan nilai-nilai Pancasila. Cerita tentang toleransi dan gotong royong bisa dikemas lewat video pendek yang estetik di TikTok atau Instagram, gim interaktif, atau animasi yang lucu.

Dengan cara ini, Pancasila akan terasa sebagai gaya hidup yang keren, bukan lagi sekadar pajangan di dinding kelas. Langkah ketiga yaitu literasi digital harus menjadi pelajaran wajib. Anak-anak muda perlu diajari cara membedakan berita asli dan bohong (hoax), mengenali akun palsu yang ingin memecah belah, dan memahami bahwa internet punya sisi gelap yang bisa memengaruhi emosi mereka. Pancasila harus diposisikan sebagai “saringan” pribadi mereka saat bermain media sosial. Mereka harus sadar bahwa mengetik komentar jahat atau menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya bisa merusak persatuan bangsa.

Langkah keempat yaitu Pihak sekolah harus lebih peduli dengan kegiatan di luar jam pelajaran resmi. Pastikan orang-orang yang diundang untuk mengisi kajian atau kegiatan ekstrakurikuler adalah mereka yang berpikiran terbuka dan damai, bukan yang menanamkan kebencian. Guru juga perlu dilatih agar bisa mengajar dengan cara yang asyik dan demokratis. Terakhir, peran orang tua di rumah sangatlah penting.

Sebelum anak-anak tenggelam dalam ramainya dunia maya, mereka harus mendapatkan kasih sayang, contoh kejujuran, dan rasa saling menghargai dari ayah dan ibunya sendiri. Tantangan terbesar bagi Pancasila saat ini bukanlah perang fisik, melainkan perang pemikiran di media sosial yang menyasar anak muda. Ketika riset menunjukkan banyak pelajar merasa Pancasila bisa diganti, itu bukanlah salah Pancasila yang kehilangan kesaktiannya, melainkan salah kita yang gagal menceritakannya dengan bahasa yang dimengerti oleh Gen Z.

Pancasila tidak boleh dibiarkan hanya menjadi barisan kalimat mati di dalam buku pelajaran. Ia harus menjadi jiwa yang hidup, yang membimbing jari anak muda saat mengetik di media sosial, sekaligus dibuktikan lewat keadilan sosial yang nyata dari pemerintah dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita bisa mengemas nilai-nilai luhur ini dengan cara yang kreatif, santai, dan penuh kasih sayang, Pancasila pasti akan tetap menjadi pelindung yang kokoh bagi bangsa Indonesia sampai kapan pun.

Penulis: Agist Dinda Kiani – Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pamulang

Show More

Redaksi

Teruntuk pembaca setia Sabba “Semua harus ditulis, apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna” (Pramoedya Ananta Toer)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Wett

Matiin Adblock Bro!